Ada kesalahan di dalam gadget ini

Jumat, 30 Juli 2010

PEMANFAATAN NIRA AREN MENJADI ETHANOL

OLEH : YOS SONO


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
.Pemanfaatan tanaman aren di Indonesia sudah berlangsung lama, namun agak lambat perkembangannya menjadi komoditi agribisnis karena sebagian tanaman aren yang dihasilkan adalah tumbuh secara alamiah atau belum di budidayakan. Namun, karena fungsi dan manfaatnya yang besar, pohon ini mulai dijadikan tanaman budidaya di Indonesia.
Fungsi istimewa pohon aren adalah sebagai pengawet sumber daya alam terutama tanah, sebagai penyerap dan pengikat air yang besar, untuk kelestarian lingkungan hidup tetutama untuk pengijauan pada daerah, daerah perengan pegunungan dan sungai-sungai dan ini sangat cocok untuk dikembangkan di negara tropis seperti indonesia. Secara umum pengembangan pohon aren berbasis industri akan dapat menekan pengagguran, menambah penghasilan para petani dan secara khusus dapat berfungsi sebagai sumber pendapatan negara.
Pohon Aren disebut Enau, dalam bahasa Latin disebut Arengga pinnata Merill atau sinonimnya Arenga saccarifera Labill, famili Arecaceae, Aren merupakan tumbuhan multiguna, memiliki banyak manfaat bagi kehidupan masyarakat.
Tahun 2007 / 2008 di Sulut luas areal pohon aren 74.844 hektar dengan produksi air nira sebanyak 30.846,38 ton per tahun. Daerah sentra aren di Sulut tersebar di Kabupaten Minahasa Selatan, Kota Tomohon dan Kabupaten Minahasa. Di Sulawesi Utara populasi pohon Nira Aren sekitar 3 juta. Rata-rata produksi nira aren ialah sebesar 10 liter nira/hari/pohon bahkan pada masa suburnya untuk beberapa jenis pohon Aren (Aren Genjah) satu pohon perhari dapat menghasilkan nira aren sebesar 40 liter, dengan kalkulasi sederhana jika dalam satu hektar dapat tumbuh 200 pohon Aren dan tiap harinya disadap 100 pohon maka dalam satu hari dapat menghasilkan nira aren sebesar 1000 liter/ha/hari dengan rule of thumb konversi glukosa menjadi ethanol sebesar 0,51 g ethanol/g glukosa maka dalam satu hari bioethanol perhektar yang dapat diperoleh ialah 500 liter/hari.
Daerah sebaran pohon nira yang paling banyak terdapat di Wilayah Sumatra (Sumatra Selatan, Sumatra Barat, Sumatra Timur dan Aceh), Jawa (Jawa Barat dan Jawa Tengah), Sulawesi (Sulawesi Utara, Tengah dan Tenggara), Maluku (Seram), Maluku Utara (Halamahera dan Bacan) dan Papua.
Kandungan gizi yang terdapat Pada pohon aren diantaranya kadar air (87,66 - 88,85), kadar gula (12,04 – 10,02), kadar protein (0,23 - 0,36), kadar lemak (0,02), kadar abu (0,3 - 0,21), Anonim (1981). Dengan kandungan dimiliki aren inilah yang membuat perbandingan dari bahan baku tebu untuk di jadikan Bioethanol. dimana produktivitas aren bisa 4-8 kali dibandingkan tebu dan rendemen gulanya 12%, sedangkan tebu rata-rata hanya 7% .
Semua bagian pohon aren dapat diambil manfaatnya, mulai dari akar (untuk obat tradisional), batang (untuk berbagai macam peralatan dan bangunan), daun muda/janur untuk pembungkus kertas rokok. Hasil produksinya juga dapat dimanfaatkan, misalnya buah aren muda untuk pembuatan kolang-kaling, pati/tepung dalam batang. Berbagai macam olahan yang berbahan baku nira aren yaitu : Nira Aren Segar aneka rasa & aroma, Syrup Aren Murni, Gula Aren Cetak Murni (aneka bentuk dan ukuran), Gula Aren Serbuk (gula Aren semut) dengan aneka rasa & aroma, Aneka minuman instan berkhasiat (kombinasi dengan beragam ramuan minuman berkhasiat obat) dan juga dapat dibuat sebagai bahan baku bioethanol.
Nira Aren memiliki kelebihan dibandingkan dengan bahan baku bioetanol lainnya seperti singkong dan jagung (tanaman penghasil pati) dikarenakan tahap yang dilakukan cukup satu tahap yaitu tahap fermentasi, sedangkan bioetanol yang berasal dari tumbuhan berpati memerlukan tahap hidrolisis ringan (sakarifikasi) untuk merubah polimer pati menjadi gula sederhana.
Nira Aren di beberapa daerah selain sebagai bahan pemanis, melalui proses fermentasi, Nira diubah menjadi minuman beralkohol yang dikenal dengan nama tuak. Alkohol yang dihasilkan secara ilmiah dikenal dengan nama Etanol Nira dapat diubah menjadi bioetanol. Bioetanol merupakan bahan bakar dari minyak nabati dengan bantuan fermentasi oleh bakteri ragi (Saccharomyces cereviseae) dimana kandungan gula (sukrosa) pada nira dikonversi menjadi glukosa kemudian menjadi etanol yang produknya disebut sebagai bioethanol.
Kegunaan alkohol bermacam-macam dalam berbagai kepentingan. Tidak hanya sebatas sebagai bahan pembuatan minuman keras. Alkohol juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan kosmetik, obat-obatan, pelarut, antiseptik, maupun bahan bakar kimia organik. Salah satunya juaga sebagai bahan untuk mencampur dengan BBM. Ethanol yang dihasilkan dari proses fermentasi kemudian dilakukan destilasi untuk memisahkan ethanol dan air sampai kadar 95-96%. Kemudian proses untuk memisahkan ethanol dan air sampai kadar 99,5% dilakukan dengan menggunakan molecular sieve atau menggunakan membrane pervaporasi. Etanol 99,5% ini yang bisa digunakan untuk menjadi bahan bakar energi alternatif.
Berdasarkan uraian diatas maka perlu studi praktek kerja lapang untuk mengetahui pembuatan ethanol dari nira aren.
B. Tujuan Dan Manfaat
Tujuan pelaksanaan praktek kerja lapang dari nira aren yaitu untuk mengetahui pembuatan etanol di Pabrik Bioetanol. Diharapkan dengan praktek kerja lapang ini dapat memberikan informasi kepada masyarakat tentang pembuatan nira Aren menjadi Etanol.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Karakteristik Tanaman Aren Aracaceae (pinang-pinangan)
Tinggi batang tanaman aren berkisar antara 8-25 m dan diameter 65 cm sehingga untuk menyadap nira diperlukan tangga. Tanaman berbunga setelah berumur 7-12 tahun. Tandan bunga muncul dari setiap pelepah atau bekas pelepah daun, mulai dari atas kira-kira seperempat dari pucuk ke arah bawah. Bunga pada tandan pertama hingga kelima atau enam adalah bunga betina, baru disusul bunga jantan yang muncul secara bertahap hingga ke pangkal batang, atau 2-3 m di atas tanah. Tandan bunga yang disadap adalah tandan bunga jantan.
Jumlah tandan produktif hanya 4-6 tandan dengan masa sadap 2-3 bulan. Dengan demikian, masa sadap aren berkisar 8-18 bulan. Setelah itu, bunga jantan masih keluar, tetapi kurang produktif. Nira aren mengandung gula yang tinggi, hingga 12%. Bila tidak diawetkan, nira akan terfermentasi menjadi alkohol dan cuka. Tanaman aren akan mati 5 tahun setelah berbunga. Seluruh bunga betina akan masak dalam 1- 3 tahun. Bunga betina yang masih muda dapat diolah menjadi kolangkaling.
Dalam satu tandan, buah masak tidak serempak. Bunga betina masak mengandung 2-3 biji dengan kulit yang keras. Jumlah bunga betina berkisar antara 5-8 ribu biji per tandan. Batang aren dibungkus oleh pelepah daun dan ijuk yang melekat pada pangkal pelepah. Ijuk dapat dipanen setelah tanaman berumur 4 tahun dan terus dipanen hingga 8-10 tahun, bergantung jenis dan pertumbuhan tanaman. Batang berkulit keras yang membungkus jaringan gabus yang mengandung pati. Kandungan pati mencapai maksimum sebelum tanaman berbunga dan menurun drastis ketika tanaman disadap. Panen pati dapat dilakukan jika tanaman tidak disadap.
B. Penyebaran dan Syarat Tumbuh
Wilayah penyebaran Aren terletak antara garis Lintang 20º Lu - 11º Ls yaitu meliputi : India, Srilangka, Banglades, Burma, Thailand, Laos, Malaysia, Indonesia, Vietnam, Hawai, Philipina, Guam dan berbagai pulau disekitar Pasifik. (Burkil, 1935); Miller, 1964; Pratiwi (1989). di Indonesia tanaman aren banyak terdapat dan tersebar hamper diseluruh wilayah Nusantara, khususnya di daerah perbukitan dan lembah.
Tanaman aren sesungguhnya tidak membutuhkan kondisi tanah yang khusus (Hatta-Sunanto,1982). Sehingga dapat tumbuh pada tanah-tanah liat, berlumur dan berpasir, tetapi Aren tidak tahan pada tanah yang kadar asamnya tinggi (Ph tanah terlalu asam). Aren dapat tumbuh pada ketinggian 9 – 1.400 meter di atas permukaan laut. namun yang paling baik pertumbuhannya pada ketinggian 500 – 800 meter di atas permukaan laut dengan curah hujan lebih dari 1.200 mm setahun atau pada iklim sedang dan basah menurut Schmidt dan Ferguson.
C. Kegunaan Pohon Aren
Pohon Aren dapat dimanfaatkan, baik berfungsi sebagai konservasi, maupun fungsi produksi yang menghasilkan berbagai komoditi yang mempunyai nilai ekonomi.
1. Fungsi Konservasi
Pohon aren dengan perakaran yang dangkal dan melebar akan sangat bermanfaat untuk mencegah terjadinya erosi tanah. demikian pula dengan daun yang cukup lebat dan batang yang tertutup dengan lapisan ijuk, akan sangat efektif untuk menahan turunnya air hujan yang langsung kepermukaan tanah. disamping itu pohon aren yang dapat tumbuh baik pada tebing-tebing, akan sangat baik sebagai pohon pencegah erosi longsor.
2. Fungsi Produksi
Fungsi produksi dari pohon aren dapat diperoleh miulai dari akar, batang, daun, bunga dan buah. di jawa akar aren digunakan untuk berbagai obat tradisional (Heyne, 1927; Dongen, 1913 dalam Burkil 1935). akar segar dapat menghasilkan arak yang dapat digunakan sebagai obat sembelit, obat disentri dan obat penyakit paru-paru. batang yang keras digunakan sebagai bahan pembuat alat-alat rumah tangga dan ada pula yang digunakan sebagai bahan bangunan.
batang bagian dalam dapat menghasilkan sagu sebagai sumber karbohidrat yang dipakai sebagai bahan baku dalam pembuatan roti, soun, mie dan campuran pembuatan lem (Miller, 1964). sedangkan ujung batang yang masih muda (umbut) yang rasanya manis dapat digunakan sebagai sayur mayor (Burkil, 1935). daun muda, tulang daun dan pelapah daunnya, juga dapat dimanfaatkan untuk pembungkus rokok, sapu lidi dan tutup botol sebagai pengganti gabus.
Tangkai bunga bila dipotong akan menghasilkan cairan berupa nira yang mengandung zat gula dan dapat diolah menjadi gula aren atau tuak (Steenis et.al., 1975). buahnya dapat diolah menjadi bahan makanan seperti kolang-kaling yang banyak digunakan untuk campuran es. kolak atau dapat juga dibuat manisan kolang-kaling.
D. Nira Aren
Adapun nira yang biasa dideras dari berbagai jenis palma (Arenga pinnata, Borassus flabellifer, Cocos Nucifera and Nypa Fruticans) kandungan total sugarnya berkisar 10-20%. Apabila dibudidayakan dengan baik, akan sangat potensial dimanfaatkan untuk pembuatan ethanol, karena produktifitasnya bisa mencapai 20 ton gula per hektar per tahun (Dalibard, 1997). Pengolahannya untuk bahan baku bioethanol akan diperoleh 8,8 ton atau setara 11.000 liter Fuel Grade Ethanol per hektar per tahun.
Nira aren dihasilkan dari penyadapan tongkol (tandan) bunga, baik bunga jantan maupun bunga betina. Akan tetapi biasanya, tandan bunga jantan yang dapat menghasilkan nira dengan kualitas baik dan jumlah yang banyak. Oleh karena itu, biasanya penyadapan nira hanya dilakukan pada tandan bunga jantan.

Sebelum penyadapan dimulai, dilakukan persiapan penyadapan yaitu :
1. Memilih bunga jantan yang siap disadap, yaitu bunga jantan yang tepung sarinya sudah banyak yang jatuh di tanah. Hal ini dapat dilihat jika disebelah batang pohon aren, permukaan tanah tampak berwarna kuning tertutup oleh tepungsari yang jatuh.
2. Pembersihan tongkol (tandan) bunga dan memukul-mukul serta mengayun-ayunkannya agar dapat memperlancar keluarnya nira. Pemukulan dan pengayunan dilakukan berulang-ulang selama tiga minggu dengan selang dua hari pada pagi dan sore dengan jumlah pukulan kurang lebih 250 kali.
3. Untuk mengetahui, apakah bunga jantan yang sudah dipukul-pukul dan diayun-ayun tersebut sudah atau belum menghasilkan nira, dilakukan dengan cara menorah (dilukai) tongkol (tandan) bunga tersebut. Apabila torehan tersebut mengeluarkan nira maka bunga jantan sudah siap disadap.
4. Penyadapan dilakukan dengan memotong tongkol (tandan) bunga pada bagian yang ditoreh. Kemudian pada potongan tongkol dipasang bumbung bamboo sebagai penampung nira yang keluar.
5. Penyadapan nira dilakukan 2 kali sehari (dalam 24 jam) pagi dan sore. Pada setiap penggantian bumbung bamboo dilakukan pembaharuan irisan potongan dengan maksud agar saluran/pembuluh kapiler terbuka, sehingga nira dapat keluar dengan lancer.
6. Setiap tongkol (tandan) bunga jantan dapat dilakukan penyadapan selama 3 – 4 bulan sampai tandan mongering. Hasil dari air aren dapat diolah menjadi gula aren, tuak, cuka, minuman segar dan etanol.
E. Sifat Ethanol
Ethyl alcohol atau ethanol adalah salah satu turunan dari senyawa hidroksil atau gugus OH, dengan rumus kimia C2H5OH. Istilah umum yang sering dipakai untuk senyawa tersebut, adalah alkohol. Ethanol mempunyai sifat tidak berwarna, mudah menguap, mudah larut dalam air, berat molekul 46,1, titik didihnya 78,3°c, membeku pada suhu –117,3 °c, kerapatannya 0,789 pada suhu 20 °c, nilai kalor 7077 kal/gram, panas latent penguapan 204 kal/gram dan mempunyai angka oktan 91–105 (alico, 1982).
F. Penggunaan Ethanol
Ethanol dapat digunakan untuk berbagai keperluan. Setelah dicampurkan dalam gasoline, digunakan sebagai bahan bakar di berbagai negara seperti Brazil, Amerika Serikat, Argentina, Australia, Kuba, Jepang, Selandia Baru, Afrika Selatan, Swiss dan lain-lain. Pada masa perang dunia I dan II industri alkohol berkembang pesat, dengan tujuan utama sebagai bahan bakar. Selain itu etanol banyak digunakan juga dalam industri minuman, kosmetik dan industri parmasi seperti deterjen, desinfektan dan lain-lain. Alkohol dari produk petroleum atau dikenal sebagai alkohol sintetis banyak dipakai untuk bahan baku pada industri acetaldehyde, derivat acetyl dan lain-lain.
G. Pembentukan Ethanol
Ethanol (C2H5OH) merupakan senyawa yang sangat penting dan antara lain digunakan sebagai pelarut (Solvent), desinkfektan dalam industry kosmeik, farmasi, medis kimia dan sebagai bahan baku untuk sintesa pembuatan bahan kimia seperti aldehyde, asam asetat. Ethanol yang digunakan merupakan ethanol teknis dengan kadar 95-96% ethanol sebagai bahan bakar memerlukan ethanol dengan kadar yang lebih tinggi yaitu ethanol dengan kadar 99,5% atau Fuel Grade Ethanol (FGE).
Pembuatan ethanol dapat dilakukan dengan 2 cara :
1. Dengan cara sintesa dari etilen
Ethanol ini dihasilkan dari sintesa etilen yang merupakan derivate minyak bumi dengan proses yang disebut hidrasi.
Yaitu reaksi kimia etilen dengan air :
C2H4 + H2O…………… C2H5OH
Etilen Air Ethanol
2. Dengan proses fermentasi
Proses fermentasi dapat dilakukan pada bahan bergula seperti nira aren
Proses reaksi fermentasi :
C6H12O6……………….2 C2H5OH + 2CO2
Glukosa Ethanol Karbondioksida

Ethanol yang dihasilkan dari proses fermentasi kemudian dilakukan destilasi untuk memisahkan ethanol dan air sampai kadar 95-96%. Kemudian proses untuk memisahkan ethanol dan air sampai kadar 99,5% dilakukan dengan menggunakan molecular sieve atau menggunakan membrane pervaporasi.


BAB III
METODE PRAKTEK KERJA LAPANGAN

A. Tempat dan Waktu
Praktek ini dilakukan selama dua bulan mulai Juli sampai dengan September 2009. Pelaksanaan praktek dilakukan di Pabrik Bioetanol Jalan Trans Sulawesi Desa Kapitu Kecamatan Amurang Barat Kabupaten Minahasa Selatan.
B. Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan adalah Nira Aren 8000 L dengan alkohol 4,5 %, soilid 2 kg, Yeast (saccharomyces cereviseae) 2 kg, urea 1 kg, NPK 0,5 kg dan sedangkan alat yang digunakan adalah penampung, pembibitan / Seeding tank (T-103 A), Unit fermentasi (fermentor) dengan pengaduk serta motor unit distilasi, pompa, heat exchanger dan alat kontrol, Boiler, termasuk system feed water dan penyimpan sisa dan fitting
C. Metode Praktek Kerja Lapang
1. Metode deskriptif yaitu pengambilan data primer dan data sekunder.
2. Wawancara
D. Prosedur Praktek Kerja Lapangan
Prosedur praktek dilakukan melalui beberapa cara
1. Observasi lapang
Kegiatan observasi lapang ini bertujuan untuk mengenal dan melihat kondisi lapangan serta melakukan pengamatan pribadi.
2. Ikut serta dalam kegiatan proses produksi
Ikut serta dalam kegiatan uji coba pengolahan ethanol sehingga dapat mengetahui secara jelas bagaimana proses pengolahan dengan bimbingan dari operator pabrik.
3. Wawancara
Wawancara ini dilakukan dengan pihak penanggung jawab yaitu pemeintah daerah minahasa selatan dibawah koordinasi dinas perindustrian dan perdagangan juga dengan pihak gabungan kelompok tani (Gapoktan) nira aren sebagai karyawan Pabrik Bioethanol. Hal ini bertujuan untuk mencari informasi atau kejelasan mengenai jenis pekerjaan yang dilakukan di Pabrik Bioetanol.
4. Pengumpulan Data
Sumber data yang diperoleh berdasarkan data primer dan data sakunder. Data primer yaitu data yang yang diperoleh dari responden dan data dari pabrik bioetanol. Untuk data sakunder berupa laporan dan literatur pendukung.


BAB IV
KEADAAN UMUM LOKASI PRAKTEK KERJA LAPANGAN

A. Profil Perusahaan
Pabrik Bioetanol adalah pabrik yang membuat Nira Aren menjadi Ethanol yang memang dibangun dan dimamfaatkan untuk merangsang aktivitas ekonomi para petani Nira Aren yang berskala kecil dan menengah. Dilaksanakan secara terpadu lewat program unggulan Gabungan Kelompok Tani Nira Aren yang berada di minahasa selatan. Pabrik Bioethanol terbentang diatas areal ± 4 ha, luas bangunan P : 24 m dan L : 12 m yang berlokasi di Desa Kapitu Kecamatan Amurang Barat Kabupaten Minahasa Selatan.
Adapun maksud dan tujuan dalam mendirikan pabrik bioethanol ini yaitu turut melaksanakan program pemerintah tentang BBM dan instruksi presiden no 1 tahun 2006 tanggal 25 januari 2006 tentang penyediaan dan pemanfaatan bahan bakar nabati (biofuel) sebagai bahan bakar. Peraturan presiden republik indonesia nomor 5 tahun 2006 tentang kebijakan energi nasional untuk mengembangkan sumber energi alternatif. Terutama mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak (BBM) yang kian merosot. Dan membantu para petani Nira aren untuk mendapat penghasilan juga membuka lapangan pekerjaan bagi para masyarakat Nira Aren sekitarnya.

B. Tata Kerja Praktek Kerja Lapang
Dalam menjalankan kegiatan usahanya Pabrik Bioethanol dikelola oleh Daerah Minahasa Selatan dibawah pengawasan Dinas Perdagangan Dan Perindustrian Minahasa Selatan. Mempunyai tenaga yg profesional diberbagai bidang/disiplin ilmu. Masin-masing ditempatkan pada kantor utama dan para pekerja yang terampil. Walaupun masi dalam tahap uji coba namun Pabrik Bioethanol ini sendiri sudah bisa mencapai sasaran dalam pembuatan nira aren menjadi ethanol.
Stuktur organisasi Pabrik Bioetanol Didesa Kapitu Kecamatan Amurang Barat Kabupaten Minahasa Selatan dapat dilihat pada lampiran 1.
C. Sarana dan Prasarana Tempat Praktek Kerja Lapangan
Sarana dan prasarana yang menunjang pelaksanaan usaha Pabrik Bioetanol terbagi 2 yaitu secara fisik dan non fisik adalah sebagai berikut :
1. Fisik
a. Bangunan Induk Pabrik (12 X 30) Meter
- Kantor
- Laboratorium
- Tempat penampung saguer
- Boiler
b. Bangunan penujang
- Kantor registrasi
- Pos keamanan
- Sumur
- Km / wc
c. Sarana jalan dan parkir
2. Nonfisik
Sarana penunjang produksi bioethanol yang diperlukan untuk membantu kelancaran ataupun terlaksananya operasi secara keseluruhan, meliputi kebutuhan air, udara, listrik dan uap (steam).
a. Air (kebutuhan air dibagi menjadi 2 bagian), yaitu :
- Air proses, yang akan habis dalam pemakaian, sebagai contoh air sebagai umpan boiler untuk dijadikan uap (steam) dan air pencuci;
- Air penunjang proses, air yang pada prinsipnya setelah dipakai dapat ditampung, kemudian setelah diperbaiki kondisinya dapat digunakan kembali. Ketersediaan air proses dapat dipenuhi dengan 2 buah deep well (sumur dalam) yang masing-masing berkapasitas 120 liter/menit. Berikut ini tabel kebutuhan air.
Tabel 1 : Kebutuhan Air Penunjang Proses
NAMA KEBUTUHAN
KEBUTUHAN MAKS.
(TON/JAM)
JAM OPERASI
(JAM/HARI)
KEBUTUHAN TOTAL
(TON/HARI)

SEEDING TANK
1,5
18
27

FERMENTOR 3 BUAH
3
24
72

OVERHEAD ONDENSOR
1
24
24

VENT CONDENSOR
0,1
24
2,4

PRODUCT COOLER
0,2
24
4,8

GENERATOR
0,2
24
4,8

a. Udara
Kebutuhan udara disediakan oleh sebuah kompresor berkapasitas 50 nl/menit, tekanan 4 kg/cm2 dan temperatur 35°c. Udara dipakai untuk keperluan aerasi dan penggerak sistem alat kontrol, karena kebanyakan alat kontrol yang terpasang memakai pneumatic controller system.
b. Listrik
Apabila lokasi plant ethanol belum terjangkau oleh jaringan perusahaan listrik negara (pln), maka untuk kebutuhan listrik dipakai generator dengan bahan bakar minyak diesel (solar). Generator yang diperlukan berjumlah 2 unit, masing-masing dengan kapasitas terpasang 25 kva. Dalam keadaan pilot plant beroperasi, jumlah total listrik yang diperlukan berkisar antara 870–900 kw/hari, dengan kebutuhan bahan bakar solar ± 80 liter/hari.
c. Uap Air (Steam)
Uap air (steam) diperlukan terutama pada proses sterilisasi media pembiakan, proses distilasi dan secara berkala untuk pembersihan saluran pipa. Kebutuhan uap ini dibangkitkan oleh sebuah boiler dengan kapasitas terpasang 500 kg/jam, tekanan 7 kg/cm 2, temperatur 150°c dan menggunakan bahan bakar biomasa.
Tabel 2 : Kebutuhan Uap Air (Steam)
Nama peralatan
Kebutuhan maks.
(ton/jam)
Jam operasi
(jam/hari)
Kebutuhan total
(ton/hari)

Seeding tank
0,2
2
0,4

Fermentor
0,2
2
0,4

D. Kegiatan Pemasaran
Pemasaran merupakan faktor ekonomi akhir bagi segala kegiatan ekonomi yang berkaitan dengan bisnis dan perdagangan aktivitas pemasaran hasil produksi pabbrik bioetanol dalam tahap uji coba masi berkawasan didalam negri namun dalam pengembangan etanol sudah diakui dan diambil sampelnya untuk dibuktikan kegunaannya di Jakarta.


BAB V
PROSES PEMBUATAN NIRA AREN MENJADI ETHANOL

Proses Pembuatan Nira Aren menjadi adalah mengolah hasil sedapan air nira melalui komponen – komponen yang akan diolah menjadi ethanol.
Alur proses pengolahan nira aren yaitu :
A. Penerimaan Bahan Baku Nira
1. Pembelian Nira Aren
Pabrik Bioethanol membeli nira aren dari gabungan kelompok tani dan petani nira aren sekitarnya dengan harga nira yang berbeda. Nira dari gabungan kelompok tani dibayar dengan harga Rp. 2000,- /liter, sedangkanuntuk petani dibayar dengan harga Rp. 1500,- /liter. Sebelum dilakukan pemilihan nira, terlebih dahulu nira yang masuk dari gabungan kelompok tani dan petani diukur kadar alkohol apakah mencapi 4,5 %. Hal ini dilakukan untuk mengetahui kadar mutu yang diperlukan dalam produksi.
2. Penampungan
Nira aren yang didapat dari Gapoktan dan para tani aren sekitarnya yang sudah ditampung sebanyak 8000 liter ditampung ke dalam tangki penampung kemudian dipompa (pompa nira) ke tangki boiler.
B. Proses Pengolahan
1. Boiler
Tangki boiler di masukan air sbanyak 50 cc untuk proses pemanasan. Proses pemanasan ini diambil dari tungku pembakaran . Di dalam tangki Boiler ini di panaskan selama 30 menit dngan ukuran suhu 2 bar termometer. Diharapkan terjadi penguapan, agar air yang terkandung dalam nira dapat berkurang, sehingga didapatkan total gula ± 13% w/v,. lalu dipompakan ke tangki seeding.
2. Seeding tank atau Tangki pembiakan/pembibitan
Cara kerja :
- Adonan sebanyak 8000 liter dengan kadar Ph 4,5 % yang total gula ± 13% w/v dipompa masuk ke dalam tangki seeding
- Tambahkan ragi yang berupa ragi Saccharomyces cerevisiae. (Proses pembiakan sudah dilakukan sebelumnya.
Seeding tangk Proses pembiakan khamir:
2 kg yeast dimasukan ke dalam 80 liter nira aren ke tangki seeding , ditambahkan nutrient urea 1 kg, NPK 0,5 kg, dan pH dijaga antara 4,5 – 5,5 dan suhu 30 °C. Waktu pembibitan 24 jam.
Bibit kemudian dimasukan ke dalam tangki seeding untuk proses pembibitan selanjutnya. Selama pembibitan/pembiakan dilakukan aerasi untuk proses aerob dengan mengalirkan udara dengan kompresor ke dalam tangki seeding. Proses seeding, yaitu proses pembiakan khamir yang dilakukan dalam seeding tank. Khamir (saccharomyces cereviseae) stock slant dipindahkan ke dalam slant baru dan dibiakkan selama 48 jam, kemudian dipindahkan ke dalam active test tube dan disimpan selama 24 jam, selanjutnya dipindahkan ke flask medium dan diinkubasikan selama 24 jam, kemudian diinokulasikan. Waktu pembiakan ini sekitar 24 – 30 jam. Proses seeding harus diatur sehingga saat pengumpanan yang pertama dimasukkan dalam fermentor, biakan khamir sudah siap untuk melakukan proses fermentasi.
Kondisi operasi :
- Suhu pembiakan adalah suhu (30°C)
- pH dijaga antara 4,5
- waktu pembiakan adalah 24 jam
- kadar alkohol 4,5 %
3. Tangki fermentor (a,b dan c)
Memasukan adonan dalam kedalam satu fermentor, yang jumlahnya tiga unit (a,b dan c). Nira yang telah berkadar (gula ± 13%) dicampur dengan hasil biakan khamir. Kemudian dilakukan aerasi selama 4 jam yang dimaksudkan untuk homogenisasi media serta untuk pertumbuhan khamir. Pengumpan ke 2 dan ke 3 dilakukan dalam selang waktu 8 jam. Suhu fermentasi dijaga ± 30 - 35 °c dengan., untuk menjaga suhu fermentasi maka dilakukan pendinginan memakai colling tower dengan pendingin air. Proses fermentasi telah selesai jka kadar ethanolnya dalam adonan telah konstan dengan mengambil sampling dari fermentor untuk pengecekan. Lalu adonan di masukan kedalam tangki broth sehingga kadar alkoholnya akan meningkat menjadi 90 %. Fermentasi dianggap selesai bila kadar alkohol dalam fermented broth sudah stabil.
4. Unit distilasi
Untuk proses pemisahan atau pemurnian dengan distilasi. Maka adonan hasil fermentasi dengan volume ± 8000 liter, kadar alkohol 4,5 %, dipompa ke 3 unit destilasi secara berturut - turut.
Unit distilasi terdiri dari Maische kolom, Voorloop kolom Rectifying kolom.
a. Maische kolom
Cara kerja :
- Dari fermentor, hasil fermentasi dipompa ke maische kolom melewati voorwarmer untuk memanaskan umpan sebelum masuk ke maische kolom dengan uap dari maische kolom.
- Umpan di pompa secara bertahap masuk ke maische kolom dengan membuka valve dan untuk pengaturan suhu di voorwarmer dipakai regulator uap.
- Cek tekanan pada pressure gage (tekanan meteran)
- Pemanasan menggunakan steam dari boiler. Steam yang dipakai mempunyai tekanan 0,4-0,7 kg/cm².
- Cek suhu temperature atas dan bawah kolom pada temperature gauge. Suhu dijaga 78-80°C.
b. Voorloop kolom
Cara kerja :
- Dari maische kolom, uap diembunkan dalam kondensor dan masuk ke dalam voorloop kolom. Voorloop kolom berupa kolom bubble cup tray dengan pemanas steam.
- Hasil atas diembunkan dalam kondensor dan didinginkan dalam pendingin hasil yang menggunakan air pendingin sebagai pendingin. Kadar ethanol meningkat 5 % sehingga menghasilkan 95% ethanol.
c. Rectifying kolom
Cara kerja :
- Dari bagian bawah voorloop kolom, cairan dipompa ke dalam rectifying kolom untuk dipisahkan lebih lanjut antara ehanol dan air hingga kadar 95-96%
- Cek suhu temperature bawah kolom pada temperature gauge
- Hasil ethanol dengan kadar 95-96% didinginkan dalam pendingin hasil yang menggunakan air pendingin.
- Hasil ethanol kadar 95-96% kemudian dialirkan ke unit dehidrasi
5. Dehidrasi : Molecular sieve dan membrane
Cara kerja :
a. Dari rectifying kolom, ethanol dengan kadar 96% masuk ke dalam unit dehidrasi untuk memisahkan ethanol dan air sampai kadar 99,5% dengan menggunakan molecular sieve atau menggunakan membrane.
b. Jika menggunakan molecular sieve, ethanol dengan kadar 96% dilewatkan dalam unit molecular sieve untuk menyerap kandungan air pada ethanol dan untuk regenerasi molecular sieve dipakai tekanan vacuum.
c. Jika menggunakan membrane, ethanol dan air dipisahkan dengan membrane pervaporasi dan memakai pompa vacuum untuk proses pemisahan hingga kadar 99,9% (Fuel grade ethanol). Hasil ethanol dengan kadar 99,5 ditampung dalam tangki penimbunan hasil.


BAB VI
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Fermentasi adalah proses produksi energi dalam sel dalam keadaan anaerobik (tanpa oksigen). Secara umum, fermentasi adalah salah satu bentuk respirasi anaerobik, akan tetapi, terdapat definisi yang lebih jelas yang mendefinisikan fermentasi sebagai respirasi dalam lingkungan anaerobik dengan tanpa akseptor elektron eksternal. Alkohol 4,5 %
2. Destilasi merupakan proses pembuangan air dari dalam etanol yang kadar airnya masih tinggi. Prinsip dasar dari proses destilasi adalah memisahkan dua buah campuran cairan (dalam hal ini etanol dan air) dengan memanfaatkan perbedaan titik didih dari kedua zat cair tersebut. Etanol yang titik didihnya lebih rendah (80 derajat) dari air (100 derajat) akan diuapkan dengan jalan memanaskanya. Air akan tinggal dan etanol akan menguap, uap etanol ini dijadikan cairan lagi dengan cara mendinginkanany. Dalam proses destilasi ini kadar etanol sampai 96%.
1. Maische kolom barkadar Ethanol 90 %
2. Voorloop kolom barkadar Ethanol 95-96 %
3. Rectifying kolom barkadar Ethanol
3. Proses dehidrasi merupkan proses untuk membuang air sampai menjadi 99,5%. etanol 99,5% ini yang bisa digunakan untuk menjadi bahan bakar energi alternatif. Proses dehidrasi ini ada tiga macam yaitu proses azeotropic distillation, molecular sieve dan membran pervoration
B. Saran
1. Pemerintah seharusnya lebih pro aktif dan mensosialisasikan kegunaan bio etanol yang bahan bakunya berasal dari nira aren, sangat penting menutupi kelangkaan BBM di Indonesia.
2. Bagi para petani saguer agar kiranya selalu menopang bahan baku yang diperlukan oleh pabrik etanol yang ada di kec. Amurang Barat melalui gabungan kelompok tani.
3. Sebaiknya penduduk yang ada di sulawesi utara khususnya di kec. Amurang barat, sadar akan pemanfaatan pohon aren yang bisa dijadikan bio etanol da juga dapat menambah kebutuhan ekonomi masyarakat.

SIFAT WANITA

28 Fakta Tentang Perempuan

1. Perempuan adalah makhluk yang senang sekali “jajan”. Sebab, dalam anggapan mereka, toko, warung, mall, supermarket, atau pasar adalah tempat dimana mereka seolah merasa terkontrol (padahal buktinya mereka sangat “lost control” di tempat itu).

2. Perempuan sangat menyukai segala hal yang bersifat “tawar-menawar”. Jadi, pertanyaan tentang ‘apakah itu dibutuhkan’ tidaklah relevan. Bagi mereka, segala sesuatu yang dijual dan ditawarkan ibarat sebuah permainan yang mengasyikkan.

3. Perempuan pada dasarnya tidak punya sesuatu untuk dipakai. Jadi, jangan bertanya tentang rak baju di dalam kloset, kamu “hanya harus tidak mengerti kenapa”.

4. Perempuan butuh menangis. Dan mereka tidak akan menangis kecuali mereka tahu bahwa kamu bisa mendengarnya.

5. Perempuan akan selalu bertanya tentang sesuatu yang tidak mempunyai jawaban pasti. Ini adalah upaya mereka untuk membuatmu merasa bersalah.

6. Perempuan butuh berbicara. Jadi, mereka akan selalu ngobrol, ngomong, karena berdiam diri atau menutup mulut sangat menyiksa bagi mereka, walaupun mereka sebenarnya tidak ada yang ingin dibicarakan.

7. Perempuan butuh untuk merasa bahwa ada orang lain yang lebih ‘buruk’ dari mereka. Itu sebabnya kenapa acara-acara seperti Oprah Winfrey Show sangat sukses.

8. Perempuan tidak menginginkan seks sebesar keinginan laki-laki. Ini dikarenakan seks lebih bersifat fisik bagi laki-laki, dan bersifat emosional bagi mereka. Jadi, hanya dengan mengetahui bahwa laki-laki menginginkan seks dengan mereka, kebutuhan atau hasrat seksual mereka sudah terpenuhi.

9. Perempuan tidak menyukai serangga. Bahkan perempuan terkuat pun selalu membutuhkan laki-laki di samping mereka jika ada serangga yang muncul.

10. Perempuan tidak bisa menjaga rahasia. Sebab, itu seolah mengerat mereka dari dalam. Imbasnya, mereka merasa bahwa bukanlah sebuah ‘dosa’ bila membicarakan rahasia tersebut kepada satu atau dua orang.

11. Perempuan selalu ingin tampil berkelompok di depan umum. Karena ini memberikan mereka kesempatan untuk menggosip.

12. Perempuan tidak pernah tahan untuk tidak menjawab telpon, apapun yang sedang mereka lakukan. Sebab mereka menganggap telpon itu sebagai pengumuman lotre, dan mereka adalah pemenangnya.

13. Perempuan tidak pernah mengerti kenapa laki-laki menyukai mainan. Sedangkan laki-laki sangat paham bahwa mereka tidak membutuhkan ‘mainan’ lain bila perempuan punya tombol ‘on/off’.

14. Perempuan akan berpikir bahwa semua rasa ‘bir’ itu sama.

15. Perempuan akan menyimpan tiga jenis shampo yang berbeda dan dua jenis kondisioner di kamar mandi mereka.

16. Setelah perempuan mandi, jangan heran bila kamar mandi akan berbau seperti ‘hutan tropis’.

17. Perempuan tidak mengerti ‘daya tarik’ olahraga. Laki-laki akan mencari hiburan sebagai kesempatan untuk lari dari kenyataan. Sedangkan perempuan mencari hiburan untuk mengingatkan mereka bagaimana ’segala sesuatu’ bisa berbahaya.

18. Bila laki-laki pergi untuk 7 hari perjalanan, maka mereka akan membawa pakaian untuk lima hari dan akan memakai pakaian yang sama untuk beberapa hari. Tapi bila perempuan pergi untuk 7 hari perjalanan, maka mereka akan membawa pakaian untuk 21 hari. Ini karena mereka tidak tahu yang akan mereka rasakan apa yang mereka pakai setiap harinya.

19. Perempuan akan merapikan rambut mereka bila mau tidur.

20. Perhatikan bagaimana perempuan makan es krim, maka kamu akan tahu bagaimana mereka di tempat tidur.

21. Perempuan akan digaji (dibayar) lebih murah dibandingkan laki-laki, kecuali dalam dunia model.

22. Perempuan tidak pernah ’salah’. Dan meminta maaf adalah tugas laki-laki. Hmm…siapa sebenarnya yang merayu Adam memakan buah apel…?

23. Perempuan tidak tahu apapun soal mobil, kecuali dibutuhkan pabrik mobil untuk iklan.

24. Perempuan punya tempat tidur yang lebih baik dan tertata dibandingkan laki-laki. Sebab mereka berpikir, dalam mimpi pun mereka akan dipuja.

25. Jumlah rata-rata barang di kamar mandi perempuan adalah 437. Laki-laki tidak akan dapat mengerti brang-barang tersebut.

26. Perempuan akan bilang bahwa mereka menyukai binatang yang lucu seperti kucing. Laki-laki juga berkata yang sama, tapi bila tidak berada di depan perempuan, ia akan menendangnya.(Point yang satu ini kok jadi seperti fakta tentang lelaki? he he he…)

27. Perempuan sangat suka berbicara di telepon. Mereka bisa menginap di tempat teman selama dua minggu, lalu ketika kembali ke rumah, mereka akan menelpon teman tersebut selama 3 jam.

28. Perempuan akan merapikan stelan mereka (bersolek) bila mau keluar untuk berbelanja, menyiram tanaman, membersihkan garasi, menjawab telpon, membaca buku, atau bahkan membuka surat.

http://www.urbansutoneous.co.cc/2010/03/28-fakta-tentang-perempuan.html

Kamis, 29 Juli 2010

KRISTEN

PENATALAYANAN TUBUH
Alkitab banyak mengatakan tentang hidup yang sehat. Kadang-kadang manusia memberi alasan bahwa pemeliharaan tubuh manusia pada hakekatnya tergantung kepadanya. Tidak seorangpun berhak mengatakan kepadanya tentang apa yang harus dilakukan untuk memelihara tubuhnya. Pemikiran ini salah paling sedikit dalam dua hal. Pertama, Allah menciptakan manusia menurut gambarNya sendiri. Baca kejadian 1:26-27. Kedua, selaku penatalayan atas tubuh kita, kita harus memuliakan Allah. “Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam didalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah – dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” I Korintus 6:19, 20.
1. Apa yang diinginkan Allah untuk anak-anakNya? Jawab: “Saudaraku yang kekasih, aku berdoa, semoga engkau baik-baik dan sehat-sehat saja dalam segala sesuatu, sama seperti jiwamu baik-baik saja.”III Yohanes 2. Catatan : Allah menjanjikan kepada umatNya, “Aku akan menjauhkan penyakit dari tengah-tengahmu.” Keluaran 23:25. Allah berjanji tidak membiarkan penyakit menyusahkan umatNya asalkan mereka mau memelihara hukum-hukumNya. Keluaran 15:26. "Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan apa yang benar di mata-Nya, dan memasang telingamu kepada perintah-perintah-Nya dan tetap mengikuti segala ketetapan-Nya, maka Aku tidak akan menimpakan kepadamu penyakit manapun, yang telah Kutimpakan kepada orang Mesir; sebab Aku Tuhanlah yang menyembuhkan engkau."
2. Didalam hal apa kita harus memuliakan Allah? Jawab: “Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” I Korintus 10:31.
3. Bagaimana berat akibat tidak mengindahkan pemeliharaan tubuh dengan baik? Jawab: Dalam Yohanes 5 terdapat cerita tentang seorang yang timpang didalam kolam Betseda sudah 38 tahun dia dalam keadaan yang demikian. Penyalah gunaan kesehatannya yang mengakibatkan penderitaanya dianggap dosa oleh Yesus (Johanes 5:14). Melanggar hukum jasmani dan moral adalah dosa terhadap pencipta itu.
4. Bagaimana tubuh kita harus dipersembahkan kepada Allah? Jawab: “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah dan aku menasehatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup yang kudus dan yang bekanan kepada Allah: Itu adalah ibadahmu yang sejati.” Roma 12:1.
5. Mengapa Allah membatasi makanan umatNya? Jawab: “Sebab engkaulah umat yang kudus bagi Tuhan, Allahmu dan engkau dipilih Tuhan untuk menjadi umat kesayanganNya dari antara segala bangsa yang diatas muka bumi. Janganlah engkau memakan sesuatu yang merupakan kekejian.” Ulangan 14:2-3.
6. Binatang khusus apa dikatakan Allah tidak layak untuk dimakan? Jawab: “Juga babi, karena memang berkuku belah, tetapi tidak memamah biak, haram itu bagimu. Daging binatang-binatang itu janganlah kamu makan dan janganlah kamu terkena bangkainya.” Ulangan 14:8. Baca Imamat 17:7,8. Catatan : Ada dua pasal penuh, Imamat 11 dan Ulangan 14, seluruhnya diperuntukkan memberikan daftar binatang yang halal dan haram. Baca Markus 5:1-13. Dimana dinyatakan Yesus tidak memandang Babi layak untuk makanan. Berdasarkan pengumpulan sisa makanan ketika Ia memberi makan lima ribu orang (Markus 6 : 38-44) dan ketika Ia memberi makan empat ribu orang (Markus 8:5-9). Jika kawanan 200 ekor babi layak untuk makanan dia tidak akan membiarkan pembinasaan babi itu.
7. Apa arti kain lebar yang berisi pelbagai jenis binatang yang turun dari langit dalam penglihatan Petrus? Jawab: “Ia berkata kepada mereka, kamu tahu betapa kerasnya larangan bagi seorang Yahudi untuk bergaul dengan orang-orang yang bukan Yahudi atau masuk kerumah mereka. Tetapi Allah telah menunjukkan kepadaku, bahwa aku tidak boleh menyebut orang najis atau tidak tahir…. Lalu mulailah petrus berbicara, katanya: Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepadaNya…. Ketika mereka mendengar hal itu, mereka menjadi tenang, lalu memuliakan Allah, katanya, jadi kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup.” Kisah 10:28, 34, 35, Kisah 11:18. Catatan : Allah tidak berusaha untuk menunjukkan kepada Petrus bahwa segala jenis binatang dan binatang yang menjalar baik untuk makanan tetapi sebaliknya bahwa orang-orang yang bukan Yahudi janganlah dianggap najis dan tidak layak untuk menerima injil itu.
8. Apa yang dapat diharapkan orang-orang yang tetap memakan daging babi hingga Yesus datang? Jawab: “Sebab sesungguhnya, Tuhan akan datang dengan api dan kereta-keretanya akan seperti putting beliung untuk melampiaskan murkaNya dengan kepanasan dan hardikNya dengan nyala api. Sebab Tuhan akan menghukum segala yang hidup dengan api dan dengan pedangNya, dan orang-orang yang mati terbunuh oleh Tuhan akan banyak jumlahnya. Mereka yang menguduskan dan mentahirkan dirinya untuk taman-taman dewa, dengan mengikuti seseorang yang ditengah-tengahnya, yang memakan daging babi, dan binatang-binatang jijik serta tikus, mereka semuanya akan lenyap sekaligus, demikian Firman Tuhan.” Jesaya 66:15-17. Catatan: Penghakiman Allah yang dimikian diramalkan akan terjadi kepada umatNya yang berdosa pada zaman dulu, dengan jelas dinyatakan bagaimana penghakimanNya atas dosa-dosa pada hari terakhir dari Tuhan. Ayat 15 menegaskan bahwa Yesus akan datang dengan api…. Kapan? Tentu pada kedatanganNya yang kedua kali yang kita sedang nanti-nantikan, pada saat itu Yesus akan membisansakan orang-orang yang suka ke dukun dan memakan makanan yang haram.
9. Nasihat apa yang diberikan Allah tentang penggunaan minuman-minuman yang memabukkan? Jawab: “Jangan melihat kepada anggur, kalau merah menarik warnanya dan mengilau dalam cawan, yang mengalir masuk dengan nikmat, tetapi kemudian memagut seperti ular, dan menyemburkan bisa seperti beludak.” Amsal 23:31, 32 baca juga Amsal 20:1 Anggur adalah pencemooh, minuman keras adalah peribut, tidaklah bijak orang yang terhuyung-huyung karenanya.
10. Haruskah orang Kristen menggunakan tembakau? Jawab: “Jika engkau makan atau jika engkau minum atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” I Korintus 10:31. Baca Roma 12:1. Catatan: Sekarang ada fakta yang diakui bahwa tembakau berbahaya kepada tubuh manusia. Dengan pengetahuan kita tidak seorang dapat merokok, mengunyah memasukkan, meminum mengunakan obat-obatan untuk merangsang dan lain-lain untuk kemuliaan Allah. Oleh karena itu, orang Kristen harus menjauhkan diri dari penggunaan benda yang berbahaya bagi tubuhnya, dan hanya menggunakan yang baik secara terbatas. Belum lama ini Fatwa dari beberapa agama yang terbesar di Indonesia telah mengeluarkan larangan merokok bahkan mengharamkannya…. Tentu hal ini menunjukkan kesadaran ciptaan Tuhan akan perlunya kesehatan Tubuh.


KESIMPULAN
Karena Allah menjadikan manusia Dia tahu apa yang terbaik untuk kita. Dia memberikan izin kepada manusia untuk memakan binatang seperti Rusa, Domba, Lembu atau binatang apa saja yang kukunya terbelah dua dan memamah biak. Memakan tupai, kelinci dan babi tidak di izinkan. Ikan yang bersirip dan bersik baik untuk dimakan tetapi belut, baung, udang, kepiting, kerang, dan lokan tidak layak untuk dimakan. Tidak ada peraturan umum diberikan untuk membedakan antara burng yang halal dan tidak halal dalam Imamat 11 daftar 20 ekor burung disebutkan sebagai yang terlarang. Beberapa unggas yang dianggap tidak haram ialah: Merpati, ayam hutan, puyuh, ayam, kalkun, dan lain-lain. Baca Imamat 11 dan Ulangan 14.
Daniel memberikan teladan yang baik bagi kita dalam soal makan dan minum. “Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dnegan anggur yang biasa diminum raja.” Daniel 1:8. Akhirnya Paulus menuliskan firman Tuhan dalam 1 Kor 3:16 Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu? 3:17 Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu. “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah dan aku menasehatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup yang kudus dan yang bekanan kepada Allah: Itu adalah ibadahmu yang sejati.” Roma 12:1.

Sabtu, 03 Juli 2010

IDENTIFIKASI DAN PEMERIKSAAN LJUMLAH TOTAL BAKTERI PADA SUSU KEDELAI YANG DIPASARKAN DISUPERMARKET KOTA GORONTALO

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Dewasa ini di negara-negara yang sudah maju maupun di negara-negara yang sedang berkembang termasuk di Indonesia, susu kedelai merupakan sumber utama penghasil susu berbahan nabati yang mempunyai nilai gizi tinggi. Ada pula susu yang dihasilkan oleh ternak lain misalnya kerbau, kambing, kuda dan domba, akan tetapi dimasyarakat saat ini mulai tertarik mengkonsumsi susu kedelai.
Susu kedelai merupakan bahan makanan yang diyakini mempunyai gizi yang sempurna dan lengkap. Di dalamnya terkandung zat-zat yang diperlukan untuk tubuh dalam perbandingan yang seimbang. Dengan lengkapnya kandungan gizi yang ada, maka susu kedelai dapat dipakai sebagai penyempurna makanan yang ada. Menurut Dwidjoseputra (1990) susu kedelai merupakan bahan makanan sempurna yang di dalamnya mengandung nilai gizi yang tinggi sehingga baik untuk dikonsumsi manusia. Tetapi dengan nilai gizi yang tinggi tersebut susu kedelai merupakan media yang baik untuk pertumbuhan berbagai macam mikroorganisme, baik mikroorganisme yang menguntungkan maupun mikroorganisme yang dapat membahayakan manusia.


Macam dan jumlah bakteri akan berbeda dari kelompok susu yang berbeda. Menurut SNI 01-3830-1995, jumlah cemaran bakteri total sekitar 1 X 106 CFU/ml. Di samping bakterinya yang rendah, air susu harus bebas dari berbagai kotoran, mempunyai bau yang normal, serta bebas dari spora serta mikroorganisme yang dapat menyebabkan penyakit (Hadiwiyoto, 1994).
Dari pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa tidak ada air susu kedelai yang benar-benar bersih dari kontaminasi mikroorganisme setelah proses pembuatannya, tetapi air susu kedelai yang terdapat di dalam kemasan yang hiegenis dan dikemas secara vacum masih dapat dikatakan steril atau bebas bakteri. Kontaminasi mikroorganisme di dalam air susu kedelai dapat diperoleh dari penggunaan alat-alat pemprosesan yang kotor, kotoran di sekitar wadah pengolahan dan dapat juga berasal dari bahan baku yang tidak hiegenes serta debu atau faktor lain yang menyebabkan terjadinya kontaminasi terhadap air susu kedelai tersebut.
Kandungan bakteri akibat kontaminasi akan bertambah sejalan dengan pertambahan waktu. Kandungan bakteri tersebut di dalam susu kedelai kurang dari 1.000 bakteri tiap ml dan selama produksi akan diperoleh lebih dari 1.000.000 bakteri / ml air susu kedelai (Robinson, 1990). Adanya kontaminasi tersebut menyebabkan kerusakan pada kualitas susu kedelai sehingga tidak layak untuk dikonsumsi.


Penelitian Balia dkk (2000) menunjukkan bahwa susu kedelai dari pengolahan rakyat di Lembang, Bandung mengandung bakteri total pada susu kedelai adalah 3,70 x 106 CFU/ml, sedangkan dari susu kedelai pasteurisasi tanpa kemasan di pedagang kaki lima diperoleh jumlah bakteri total 3,45 X 106 CFU/ml. Hal ini menunjukkan bahwa bakteri total pada susu kedelai ternyata melebihi batas maksimum cemaran SNI 01-3830-1995 baik dari pengolahan rakyat skala industri rumah tangga maupun dari pedagang kaki lima.
Untuk mendapatkan susu kedelai yang memenuhi standart kesehatan, maka digunakan berbagai cara agar susu kedelai yang dihasilkan bebas dari kontaminasi bakteri seminimal mungkin. Pertumbuhan bakteri dapat dihambat atau dimatikan dengan pemberian bahan-bahan kimia atau dengan perlakuan secara fisik (Eckles,1931).
Berdasarkan hal tersebut di atas, maka perlu dilakukan penelitian pemeriksaan jumlah total bakteri pada susu kedelai yang dipasarkan di supermarket Kota Gorontalo. Dengan penelitian ini diharapkan dapat diketahui mutu mikrobiologis susu kedelai yang dipasarkan di Kota Gorontalo pada khususnya demi terciptanya keamanan pangan produk olahan hasil pertanian.




B. Rumusan Masalah
Susu kedelai merupakan diversifikasi produk olahan hasil pertanian berbahan baku kedelai dengan kualitas pilihan, sebagai salah satu produk olahan hasil pertanian yang bernilai gizi tinggi, mudah diperoleh dipasar dengan harga terjangkau serta digemari masyarakat terutama generasi muda, anak-anak dan balita yang dibutuhkan untuk proses pertumbuhan.
Pada umumnya industri pengolahan susu kedelai merupakan industri rumah tangga, dengan permodalan terbatas dan pengetahuan sanitasi dan higiene masih terbatas serta pengolahan masih dilakukan secara manual sehingga berpotensi terjadi kontaminasi bakteri patogen. Sumber kontaminasi bakteri patogen dapat terjadi melalui bahan baku, bahan pembantu, bahan tambahan, bahan pengemas, peralatan dan lingkungan serta pekerja.
Bakteri patogen yang berpotensi dan sering mengkontaminasi produk olahan susu kedelai adalah Pseudomonodaceae, Bacillaceae, Enterobacteriaceae, lactobacillaceae, streptococcaceae serta Micrococcaceae diantara berbagai jenis bakteri tersebut sebagian dapat menghasilkan enterotoksin yang bersifat tahan panas, melebihi sel vegetatifnya sehingga makanan yang terkontaminasi masih tetap berbahaya meskipun bakterinya sudah mati setelah pemanasan.
Susu kedelai merupakan produk hasil pertanian olahan yang berfungsi sebagai minuman pelengkap dengan potensi pasar yang prospektif kini di jual dipasar moderen dan tradisional di kota Gorontalo, namun memiliki potensi masalah mikrobiologis, diantaranya kontaminasi Aeracoccus Uiridans, Listeria Monositogenes, Bacillus spp, bacillus Lpey. yang dapat membahayakan kesehatan konsumen. Untuk mendapatkan gambaran berapa jumlah total bakteri apa saja yang ada dalam susu kedelai yang dipasarkan di Supermarket Kota Gorontalo, maka diperlukan penelitian ini.
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini antara lain adalah :
1. Mengidentifikasi bakteri apa saja yang terdapat di dalam susu kedelai bubuk dan cair yang dipasarkan di supermarket Kota Gorontalo.
2. Mengetahui jumlah total bakteri dalam susu kedelai yang dipasarkan di Supermarket Kota Gorontalo.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah tentang jumlah total bakteri serta identifikasi jenis bakteri yang terdapat dalam susu kedelai yang dipasarkan di Supermarket Kota Gorontalo, sehingga nanti dapat diambil langkah lebih lanjut oleh instansi teknis terkait dalam rangka peningkatan keamanan pangan susu kedelai sebagai produk olahan hasil pertanian yang ada di pasaran supermarket Kota Gorontalo.





E. Kerangka Pikir Penelitian
Komposisi kimia susu kedelai yang lengkap seperti lemak, laktosa, protein, dan lain-lainnya memungkinkan adanya anggapan bahwa susu kedelai berperan sebagai medium yang baik bagi pertumbuhan mikrobia merugikan. Susu kedelai yang dihasilkan pada industri minuman pada hakekatnya steril, setelah melewati proses produksi dimungkinkan terjadi kontaminasi oleh mikroba. Hal itu disebabkan selain karena terdapat sisa susu kedelai (lebih kurang 10% dari volume susu total), atau karena peralatan dan lingkungan pengolahan yang tidak steril. Oleh karena itu, susu kedelai yang diperoleh sesudah proses pengolahan dimungkinkan mengandung sejumlah bakteri pencemar yang macam dan jumlahnya tergantung pada lingkungan, peralatan, dan personil yang berhubungan dengan pengumpulan, penyimpanan dan transportasi susu kedelai.
Berdasarkan uraian yang dipaparkan diatas maka perlu ditelaah lebih lanjut mengenai jumlah total bakteri dan bakteri apa saja yang terdapat di dalam susu kedelai bubuk maupun cair yang dipasarkan di supermarket Kota Gorontalo agar dapat memberikan informasi keamanan pangan produk susu kedelai bagi masyarakat khususnya para konsumen.





Adapun kerangka pendekatan studi dapat dilihat pada diagram berikut ini :



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Susu Kedelai
Sejak abad ke II sebelum Masehi, susu kedelai sudah dibuat di negeri Cina. Kemudian berkembang ke Jepang dan setelah abad ke II masuk ke Asia Tenggara. Di Indonesia, perkembangannya sampai saat ini masih ketinggalan dengan Singapura, Malaysia, dan Filipina. Di Malaysia dan Filipina susu kedelai dengan nama dagang "Vitabean" yang telah diperkaya dengan vitamin dan mineral, telah dikembangkan sejak Tahun 1952. Di Filipina juga dikenal susu kedelai yang populer dengan nama "Philsoy". Sementara di tanah air baru beberapa tahun terakhir dikenal susu kedelai dalam kemasan kotak karton yang diproduksi oleh beberapa industri minuman (Anonim 2006).
Komposisi susu kedelai hampir sama dengan susu sapi (Koswara 2006). Karena itu susu kedelai dapat digunakan sebagai pengganti susu sapi. Susu ini baik dikonsumsi oleh mereka yang alergi susu sapi, yaitu orang-orang yang tidak punya atau kurang enzim laktase dalam saluran pencernaannya, sehingga tidak mampu mencerna laktosa dalam susu sapi. Laktosa susu sapi yang lolos ke usus besar akan dicerna oleh jasad renik yang ada di sana. Akibatnya, orang yang tidak toleran terhadap laktosa akan menderita diare tiap kali minum susu sapi. Umumnya, mereka orang dewasa yang tidak minum susu pada waktu masih kecil. Karenanya, penderita kebanyakan berasal dari kawasan Asia, Afrika, Amerika Latin, dan negara-negara berkembang (Anonim 2006).
Untuk balita dua gelas susu kedelai sudah dapat memenuhi 30% kebutuhan protein sehari. Dibandingkan dengan susu sapi, komposisi asam amino dalam protein susu kedelai kekurangan jumlah asam amino metionin dan sistein. Tetapi, karena kandungan asam amino lisin yang cukup tinggi, maka susu kedelai dapat meningkatkan nilai gizi protein dari nasi dan makanan sereal lainnya (Koswara, 2006).
Mutu protein dalam susu kedelai hampir sama dengan mutu protein susu sapi. misalnya, protein efisiensi rasio (PER) susu kedelai adalah 2,3, sedangkan PER susu sapi 2,5. PER 2,3 artinya, setiap gram protein yang dimakan akan menghasilkan pertambahan berat badan pada hewan percobaan (tikus putih) sebanyak 2,3 g pada kondisi percobaan baku. Susu kedelai tidak mengandung vitamin B12 dan kandungan mineralnya terutama kalsium lebih sedikit ketimbang susu sapi. Karena itu dianjurkan penambahan atau fortifikasi mineral dan vitamin pada susu kedelai yang diproduksi oleh industri besar (Subagyo, 2007).
Dari seluruh karbohidrat dalam susu kedelai, hanya 12 - 14% yang dapat digunakan tubuh secara biologis. Karbohidratnya terdiri atas golongan oligosakarida dan golongan polisakarida. Golongan oligosakarida terdiri dari sukrosa, stakiosa, dan raffinosa yang larut dalam air (Koswara, 2006). Sedangkan golongan polisakarida terdiri dari erabinogalaktan dan bahan-bahan selulosa yang tidak larut dalam air dan alkohol, serta tidak dapat dicerna.
Secara umum susu kedelai mempunyai kandungan vitamin B2, niasin, piridoksin, dan golongan vitamin B yang tinggi. Vitamin lain yang terkandung dalam jumlah cukup banyak ialah vitamin E dan K (Anonim, 2006). Jika dibuat dengan cara yang tidak baik, susu kedelai masih mengandung senyawa-senyawa antigizi dan senyawa penyebab off-flavor (penyimpan cita rasa dan aroma pada produk olah kedelai) yang berasal dari bahan bakunya, yaitu kedelai. Senyawa-senyawa antigizi itu di antaranya antitripsin, hemaglutinin, asam fitat, dan oligosakarida penyebab flatulensi (timbulnya gas dalam perut sehingga perut menjadi kembung), (Anonim, 2008).
Sedangkan senyawa penyebab off-flavor pada kedelai misalnya glukosida, saponin, estrogen, dan senyawa-senyawa penyebab alergi. Dalam pembuatan susu kedelai, senyawa-senyawa itu harus dihilangkan, sehingga menghasilkan susu kedelai dengan mutu terbaik dan aman untuk dikonsumsi manusia. Untungnya, proses penghilangan senyawa pengganggu ini tidak sulit. Untuk memperoleh susu kedelai yang baik dan layak konsumsi, diperlukan syarat bebas dari bau dan rasa langu kedelai, bebas antitripsin, dan mempunyai kestabilan yang mantap (tidak mengendap atau menggumpal), (Koswara, 2006).
Bau dan rasa khas kedelai dan kacang-kacangan mentah lainnya tidak disukai konsumen. Rasa dan bau itu ditimbulkan oleh kerja enzim lipsigenase yang ada dalam biji kedelai. Enzim itu akan bereaksi dengan lemak pada waktu penggilingan kedelai, terutama jika digunakan air dingin. Hasil reaksinya paling sedikit berupa delapan senyawa volatil (mudah menguap) terutama etil-fenil-keton (Anonim, 2006).
Bau dan rasa dapat dihilangkan dengan cara mematikan enzim lipksigenase dengan panas. Cara yang dapat dilakukan antara lain (1) menggunakan air panas (suhu 80 - 100oC) pada penggilingan kedelai, atau (2) merendam kedelai dalam air panas selama 10 - 15 menit sebelum digiling. Agar bebas antitripsin, kedelai direndam dalam air atau larutan NaHCO3 0,5% selama semalam (8 - 12 jam) yang diikuti dengan perendaman dalam air mendidih selama 30 menit (Koswara, 2006).
Subagyo, 2007 menjelaskan bahwa dalam susu kedelai terdapat bahan padat yang dapat larut dan tidak dapat larut. Bahan-bahan itu pada mulanya tercampur merata, tetapi jika dibiarkan akan mengendap. Susu kedelai yang mengandung endapan di bagian bawahnya tidak disukai konsumen, meskipun sebenarnya tidak rusak. Supaya stabil atau tidak terjadi pengendapan, cara berikut ini dapat dilakukan:
1. Menambahkan senyawa penstabil misalnya CMC dan Tween 80,
2. Menggiling dengan air panas dan penyimpanan sebaiknya pada suhu dingin (kulkas),
3. Melakukan homogenisasi untuk mendapatkan butir-butir lemak yang seragam menggunakan alat homogenizer, dan
4. Mengatur kadar protein susu kedelai cair sampai kurang dari 7%
(jika lebih dari itu protein mudah menggumpal saat susu kedelai dipanaskan), yang dilakukan dengan menambahkan air pada bubur kedelai hasil penggilingan sampai perbandingan air dan kedelai 10 : 1. Kadar protein dalam susu kedelai yang diperoleh dengan rasio ini adalah 3 - 4%.
Pada prinsipnya terdapat dua bentuk susu kedelai, cair dan bubuk. Bentuk cair lebih banyak dibuat dan diperdagangkan. Susu kedalai dapat disajikan dalam bentuk murni, artinya tanpa penambahan gula dan cita rasa baru (Anonim 2006). Dapat juga ditambah gula atau flavor seperti moka, pandan, panili, coklat, strawberi, dan lain-lain. Jumlah gula yang ditambahkan biasanya sekitar 5 - 7% dari berat susu. Untuk meningkatkan selera anak-anak, kandungan gula dapat ditingkatkan menjadi 5 - 15%. Tetapi kadar gula yang dianjurkan adalah 7%. Kadar gula 11% atau lebih menyebabkan cepat kenyang.
Persyaratan mutu untuk susu yang terpenting ialah kadar protein minimal 3%, kadar lemak 3%, kandungan total padatan 10%, dan kandungan bakteri maksimum 300 koloni/gram, serta tidak mengandung bakteri E. coli (Anonim 2008).
Susu kedelai cair dapat dibuat dengan menggunakan teknologi dan peralatan sederhana yang tidak memerlukan keterampilan tinggi, maupun dengan teknologi modern dalam pabrik. Dewasa ini banyak cara yang dapat digunakan untuk membuat susu kedelai cair dengan hasil yang baik. Beberapa metode yang umum digunakan dalam pembuatan susu kedelai untuk minuman manusia antara lain metode Illinois, metode Pusbangtepa-IPB, dan metode sederhana.
Menurut Koswara, 2006 Secara garis besar cara pembuatan susu kedelai seperti :
1. Kedelai yang telah disortasi (dipisahkan dari kotoran dan biji rusak) direndam dalam larutan NaHCO3 0,25 - 0,5% selama 15 menit. Perendaman dilakukan pada suhu ruang, dengan perbandingan larutan perendam dan kedelai 3 : 1.
2. Kedelai ditiriskan dan dididihkan selama 20 menit.
3. Kedelai digiling dengan penggiling logam, penggiling batu (yang biasa dipakai pada pembuatan tahu), atau blender.
4. Bubur yang diperoleh ditambah air mendidih sehingga jumlah air secara keseluruhan mencapai 10 kali lipat bobot kedelai kering.
5. Bubur encer disaring dengan kain kasa dan filtratnya merupakan susu kedelai mentah.
6. Untuk meningkatkan rasa dan penerimaan, ke dalam susu kedelai mentah ditambahkan gula pasir sebanyak 5 - 7% dan flavor seperti coklat, moka, pandan, strawberi secukupnya, kemudian dipanaskan sampai mendidih.
7. Setelah mendidih, api dikecilkan dan dibiarkan dalam api kecil selama 20 menit. 8. Jika akan dibotolkan, ke dalam susu kedelai dapat ditambahkan CMC sebanyak 100 ppm (100 mg CMC ditambahkan ke dalam 1 l susu kedelai). Susu kedelai sebaiknya dalam suhu dingin sekitar 5oC (suhu lemari es). ( Sutrisno, 2006).
Di samping bentuk cair, susu kedelai dapat juga dibuat dalam bentuk bubuk yang umumnya dilakukan dengan cara pengeringan semprot (spray drying). Untuk membuat susu kedelai bubuk, mula-mula kacang kedelai yang telah disortasi dan dicuci, direndam dalam larutan NaOH 0,05% selama 8 jam dengan jumlah larutan 3 kali berat kedelai kering. Setelah dikupas dan dicuci, kedelai direndam dalam larutan NaHCO3 0,15% selama 30 menit pada suhu 100oC. Kemudian dilakukan penggilingan dengan air panas, perbandingan air dan kedelai kering 8:1. Untuk menambah total padatan dalam susu kedelai, pada saat penggilingan ditambahkan santan kelapa sebanyak 10 - 20%. Setelah disaring, campuran kemudian dihomogenisasi pada tekanan 3.300 psi. Kemudian dialirkan ke dalam pengering semprot yang telah diset dengan kondisi: tekanan 4,5 - 5,0 bar, suhu udara 170 - 185oC dan suhu udara keluar 80- 95oC ( Anonim 2008 ). Gambar susu kedelai dalam kemasan dapat dilihat pada gambar berikut ini.








Gambar 01. Kemasan Susu Kedelai Yang Di Pasarkan Di Supermarket.


Table 1. Komposisi Susu Kedelai Bubuk dan Susu Kedelai Cair tiap 100 g

KOMPOSISI SUSU KEDELAI BUBUK DAN SUSU KEDELAI CAIR
TIAP 100 G
Komponen Bubuk Cair
Kalori (Kkal) 41,00 41,00
Protein (g) 3,20 3,50
Lemak (g) 2,50 2,50
Karbohidrat (g) 4,30 5,00
Kalsium (mg) 43,00 50,00
Fosfor (g) 60,00 45,00
Besi (g) 1,70 0,70
Vitamin A (SI) 130,00 200,00
Vitamin B1 (tiamin)(mg) 0,03 0,08
Vitamin C (mg) 1,00 2,00
Air (g) 88,33 87,00

Sumber : Direktorat Gizi Depkes RI 2000 dalam Hartoyo (2005 : 13).
B. Mikrobiologi Susu Kedelai
Berbagai mikrobia tumbuh dan berkembang dengan baik pada susu kedelai. Dua kelompok utama mikrobia tersebut adalah bakteri dan fungi. Bakteri merupakan mikrobia bersel satu dengan ukuran 0,4-1,5 µm dan mempunyai berbagai macam bentuk mulai berbentuk bulat, panjang dan spiral (Widodo, 2003). Bakteri tersebar luas di lingkungan baik di udara, air dan tanah, dalam usus binatang, dalam lapisan yang lembab pada mulut, hidung atau tenggorokan, pada permukaan tubuh atau tumbuhan (Gaman dan Sherrington,1994).
Bakteri temasuk organisme prokariot yang bersifat khas. Sel bakteri berisi massa sitoplasma dan beberapa bahan inti (tidak memiliki inti sel yang jelas). Sel dibungkus oleh dinding sel dan pada beberapa jenis bakteri, dinding sel ini dikelilingi oleh kapsula atau lapisan lendir. Bakteri bereproduksi dengan cara pembelahan biner sederhana, yaitu merupakan tipe pembiakan yang terjadi secara aseksual (Suendra dkk., 1991).
Bakteri dalam susu kedelai dapat berasal dari bahan kedelai itu sendiri atau dari luar. Adanya aktivitas bakteri dalam susu kedelai maka susu menjadi asam, mempunyai rasa dan bau yang kurang baik, tetapi ada bakteri yang menguntungkan sehingga dipilih sebagai kultur untuk fermentasi susu, sehingga diperoleh produk fermentasi susu kedelai (Nurliyani dkk, 2008).
Kelompok bakteri yang sering mengkontaminasi pangan termasuk susu kedelai Pseudomonodaceae, Bacillaceae, Enterobacteriaceae, Lactobacillaceae dan Sreptococcaceae, serta Micrococcaceae.
1. Enterobacteraceae
Golongan bakteri Enterobacteraceae merupakan sekelompok besar dari bakteri Gram negatif, tidak berspora, berbentuk batang kecil. Beberapa genus Enterobacteriaceae penting bagi kesehatan masyarakat karena menimbulkan wabah keracunan pangan dan penyakit infeksi yang ditularkan melalui makanan yang cukup serius. Beberapa genus Enterobacteriaceae meliputi:
a. Escherichia coli
Escherichia coli merupakan bakteri Gram negatif berbentuk pendek (kokobasil), berukuran 0,4-0,7µm, bersifat anaerob fakultatif dan mempunyai flagella peritrikal. Bakteri ini banyak ditemukan didalam usus manusia sebagai flora normal. Escherichia coli biasanya juga terdapat dalam alat pencernaan hewan (Bucle dkk., 1987). Selain itu Escherichia coli sering digunakan sebagai indikator kualitas sanitasi dalam air maupun susu (Nurliyani dkk, 2008). Escherichia coli merupakan bakteri yang banyak ditemukan di dalam usus besar manusia dan hewan. Bakteri ini selalu dihubungkan dengan penyakit diare pada manusia dan sering ditemukan dalam feses sehingga dapat digunakan sebagai indikator pencemaran air dan makanan oleh feses.
Bakteri ini juga dapat menimbulkan penyakit infeksi saluran kemih, sepsis dan meningitis (Jawetz dkk., 1996).
b. Shigella
Shigella merupakan bakteri Gram negatif, berbentuk batang, berukuran 0,5-0,7µm x 2-3µm dan tidak berflagel, tidak membentuk spora, bila ditanam pada media agar akan tampak koloni yang konveks, bulat, transparan dengan pinggir-pinggir utuh (Karsinah dkk., 1994). Shigella biasanya terdapat dalam alat pencernaan hewan, selain itu shigella juga dapat menyebabkan kerusakan pada susu melalui udara, debu, peralatan pengolah susu kedelai, maupun dari manusia (Buckle dkk., 1987). Biasanya disentri basiler atau shigellosis adalah penyakit infeksi usus akut yang disebabkan oleh shigella (Vollk dan Wheeler, 1993).
c. Klebsiella
Klebsiella merupakan kelompok bakteri Gram negatif, berbentuk batang, non motil, mempunyai kapsul, dan koloni sangat berlendir, koloni besar sangat mukoid dan cenderung bersatu pada pergerakan yang lama, meragikan laktosa dan banyak karbohidrat, negatif terhadap tes merah motil (Jawetz dkk., 2001). Seperti halnya Escherichia coli, Klebsiella merupakan bakteri yang sering digunakan dalam uji sanitasi air maupun susu (Nurliyani dkk., 2008). Klebsiella terdapat dalam saluran nafas dan feses pada sekitar 5 % orang normal. Bakteri ini menyebabkan pneumonia, infeksi saluran kemih, dan peradangan saluran nafas (Jawetz dkk.,1996).
d. Enterobacter
Enterobacter merupakan bakteri aerob berbentuk batang pendek, bersifat Gram negatif membentuk rantai, mempunyai kapsul kecil, motil dengan flagel peritrik, pada media padat koloni bersifat kurang mukoid dan cenderung menyebar keseluruh permukaan, dapat membentuk asam dan gas (Jawetz dkk, 2001). Enterobacter tidak merupakan flora normal di dalam saluran pencernakan, dapat hidup bebas serta menyebabkan infeksi saluran kemih dan sepsis (Jawetz dkk, 1996).
2. Pseudomonas
Pseudomonas adalah bakteri aerob tetapi dapat mempergunakan nitrat dan arginin sebagai elektron dan tumbuh sebagai anaerob yang berbentuk batang, Gram negatif, bergerak dengan flagel polar, satu atau lebih, ukuran 0,8-1,2µm. Beberapa galur memproduksi pigmen larut air, tumbuh baik pada 37°C-42°C ( Jawetz dkk., 2001 ). Bakteri Pseudomonas biasanya terdapat dalam air susu mentah yang belum dipasteurisasi (Vollk dan Wheeler, 1993). Selain itu juga sebagai sumber kontaminasi pada proses pembuatan susu kedelai secara langsung oleh manusia (Supardi dan Sukamto, 1999).
Pseudomonas terdapat dalam flora usus normal dan kulit manusia dalam jumlah kecil. Bakteri ini dapat menyebabkan infeksi pada orang yang mempunyai ketahanan tubuh yang menurun, yaitu penderita luka bakar, orang yang sakit berat atau dengan penyakit metabolik atau orang yang sebelumnya memakai alat-alat bantu kedokteran seperti kateter ( pada penderita infeksi saluran kemih ) dan respirator ( pada pendrita pneumonia ) (Anonim,1994).
3. Micrococcaceae
Spesies dari famili ini adalah Gram positif, tidak berspora, bersifat katalase positif yang dapat tersusun secara tunggal, berpasangan, atau kelompok kecil. Dua genus yang penting dalam bahan pangan adalah Micrococcus dan Staphylococccus. Kelompok Staphylococci yang terpenting organisme ini mampu memproduksi suatu enterotoksin yang cukup berbahaya yang menyebabkan terjadinya peristiwa keracunan makanan (Buckle dkk., 1987).
Staphylococcus merupakan bakteri Gram positif berbentuk bulat biasanya tersusun dalam bentuk kluster (menggerombol) yang tidak teratur seperti anggur. Staphylococcus bertambah dengan cepat pada beberapa tipe media dengan aktif melakukan metabolisme, melakukan fermentasi karbohidrat dan menghasilkan bermacam-macam pigmen dari warna putih hingga kuning gelap. Staphylococcus cepat menjadi resisten terhadap beberapa antimikroba ( Jawetz dkk., 2001 ).
Staphylococcus tumbuh dengan baik pada berbagai media bakteriologi di bawah suasana aerobik atau mikroaerofilik. Tumbuh dengan cepat pada temperatur 20ºC-35ºC. Koloni pada media padat berbentuk bulat, lambat dan mengkilat ( Jawetz dkk., 2001). Staphylococcus aureus sering ditemukan sebagai kuman flora normal pada kulit dan selaput lendir manusia. Dapat menjadi penyebab infeksi baik pada manusia maupun hewan. Beberapa jenis bakteri ini dapat membuat enterotoksin yang dapat menyebabkan keracunan makanan. Bakteri Staphylococcus aureus juga merupakan salah satu penyebab penyakit Mastitis.



C. Pencemaran Susu Kedelai
Komposisi kimia susu kedelai yang lengkap seperti lemak, laktosa, protein, dan lain-lainnya memungkinkan adanya anggapan bahwa susu kedelai berperan sebagai medium yang baik bagi pertumbuhan mikrobia merugikan. Susu kedelai yang dihasilkan baru terjadi kontaminasi oleh mikroba. Oleh karena itu, susu kedelai yang diperoleh sesudah proses pengolahan dikwatirkan mengandung sejumlah bakteri pencemar yang macam dan jumlahnya tergantung pada lingkungan, patologi sanitasi lingkungan dan alat serta bahan pengolah lainnya yang berhubungan dengan pengumpulan, penyimpanan dan transportasi susu. kedelai. Alasan susu kedelai disukai mikroba antara lain :
1. pH susu mendekati normal sekitar 6, 6-6, 8.
2. Susu kedelai mengandung gizi yang sangat baik untuk pertumbuhan makhuk hidup termasuk mikroba.
3. Kadar air yang tinggi sekitar 85%. Jumlah bakteri dalam susu kedelai dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor baik yang berasal dari bahan kedelai itu sendiri (faktor intrinsik) maupun yang berasal dari luar (faktor ekstrinsik) (Hadiwiyoto, 1994).
D. Syarat Kualitas Susu Kedelai
Berdasarkan jumlah bakteri dalam air susu, kualitas susu di negara-negara barat dan negara-negara maju lainnya digolongkan menjadi 3 macam, yaitu:
1. Susu dengan kualitas baik atau kualitas A (No. 1), jumlah bakteri yang terdapat dalam susu segar tidak lebih dari 10.000/ml. Bakteri-bakteri koliform tidak lebih dari 10/ml.
2. Susu Kualitas B (No. 2) jika jumlah bakterinya antara 100.000-1.000.000/ml dan jumlah bakteri koliform tidak lebih dari 10/ml.
3. Susu dengan kualitas C (No. 3), jelek jika jumlah bakterinya lebih dari 1.000.000/ml (Hadiwiyoto, 1994).
Syarat kualitas air susu kedelai di Indonesia telah dibakukan dalam Standart Nasional Indonesia (SNI 01-3830-1995), dimana pemeriksaan cemaran mikroba dalam air susu segar meliputi uji pemeriksaan dengan angka lempeng total (batas maksimum mikroba 3,0 × 106 koloni/ml), Escherichia coli (maksimum 10/ml), Salmonella (tidak ada), Staphylococcus aureus (maksimum 10² koloni/ml).
E. Penanganan susu Kedelai
Kontaminasi susu kedelai perlu dicegah sedini mungkin dengan menjaga kebersihan bahan, alat dan wadah pengolahan. Agar susu kedelai yang diproduksi terjaga kebersihannya dan lebih tahan lama dari kerusakan.
Maka dapat dilakukan beberapa penanganan susu, antara lain:
1. Pendinginan susu
Pendinginan susu biasanya menggunakan lemari es atau alat pendingin khusus yang suhunya di bawah 10°C (Anonim, 1995). sehingga susu tidak mengalami kerusakan dalam waktu yang relatif singkat.
2. Pasteurisasi susu kedelai
Pasteurisasi susu kedelai adalah pemanasan susu di bawah temperatur didih dengan maksud hanya membunuh kuman ataupun bakteri patogen, sedangkan sporanya masih dapat hidup.
Ada 3 cara pasteurisasi yaitu:
a. Pasteurisasi lama (law temperature, long time). Pemanasan susu dilakukan pada temperatur yang tidak begitu tinggi dengan waktu yang relatif lama (pada temperatur 62- 65°C selama 1/2- 1 jam).
b. Pasteurisasi singkat (high temperature, short time). Pemanasan susu dilakukan pada temperatur tinggi dengan waktu yang relatif singkat (pada temperatur 71,11 °C selama 15 detik). Pada pasteurisasi ini juga dapat digunakan suhu 75 °C selama 15-16 detik dengan menggunakan alat pemanas berbentuk lempengan dimana suhu harus dijaga sebaik mungkin.
c. Pasteurisasi dengan Ultra High Temperature (UHT)
Menurut Buckle et al. (1987), pasteurisasi dengan UHT dilakukan pada suhu 125 °C selama 15 detik atau 131 °C selama 0,5 detik.


BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Tempat Dan Waktu Penelitian
Penelitian ini Dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi Hasil Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Gorontalo. Waktu pelaksanaan penelitian yang dibutuhkan sejak penyusunan Rencana Kerja Penelitian sampai dengan penyusunan Laporan Hasil Penelitian selama kurang lebih 2 bulan, yaitu bulan Mei 2010 sampai bulan Juni 2010.
B. Bahan dan Alat
1. Bahan
Bahan-bahan yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah : Susu kedelai bubuk dan cair, Aquades, alkohol, Peptone, Agar, Kristal Violet (Gram A), Lugol (Gram B), Metil Blue (Gram C), Safranin (Gram D), Motility Test Medium, Kovac's Reagen, Metil Red, Larutan H2O2, Nutrien Agar (NA).
2. Alat
Alat-alat yang akan digunakan adalah : Timbangan, gunting, gelas ukur, Erlenmeyer, spatula, timbangan analitik, PH meter, stirer, magnetic stirer, kompor listrik, auotoclave, pipet tetes, petridish, tabung Hach, tabung reaksi, Durham, bunsen, jarum ose, mikroskop, objek glass, oven, incubator, Almanium foil.

C. Metode Penelitian
Metode penelitian yang akan digunakan adalah metode deskriptif, yaitu suatu penelitian yang dilakukan untuk mengetahui atau mengungkapkan keterangan dari sutu fakta secara terperinci dan sistematis. Dalam hal ini adalah tentang jumlah total bakteri dan identifikasi jenis bakteri yang diisolasi dari susu kedelai bubuk dan cair.
Pengujian yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah pewarnaan Gram, Uji Oksidase, Uji motiliti, Uji Indol, Uji Katalase.
1. Tahapan Penelitian
a. Pengambilan Sampel
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah susu kedelai yang akan diuji diambil dari Supermarket di kota Gorontalo. Jumlah sampel yang akan digunakan diambil sebanyak 2 dos untuk tiap kali pengambilan yang terdiri dari 1 dos bubuk dan 1 dos cair, dimana pengambilan sampel direncanakan dilakukan sebanyak tiga kali dengan interval waktu pengambilan setiap 2 minggu sekali. Selanjutnya sampel dibawah ke laboratorium Mikrobiologi Hasil Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Gorontalo untuk diteliti.
b. Perhitungan Jumlah Bakteri
Ada 3 cara perhitungan bakteri hidup, yaitu:
1) Standart Plate Count
Pada cara ini dilakukan pengenceran dengan menggunakan sejumlah botol pengencer yang diisi sampel dan aqua destilata steril. Agar cair didinginkan sampai suhu sekitar 44ºC dan baru kemudian dituangkan ke dalam cawan petri setelah agak membeku cawan dieramkan selama 24-48 jam (37ºC).
2) Plate Count
Sampel dipipet lalu di masukan kedalam cawan petri kosong yang steril, lalu dituang ke dalam media agar yang mencair dalam cawan petri steril, dengan suhu sekitar ± 45ºC lalu digoyangkan dengan hati- hati sehingga sampel dan media tercampur rata dan dibiarkan memadat. Agar sebar Sebanyak 0,1 ml. Kemudian sampel susu bubuk dan cair ditungakan pada permukaan agar yang sudah memadat dalam cawan petri, lalu sampel diratakan di atas permukaan media tersebut dengan bantuan alat perata (Lay, 1994).
3) Pengujian secara Mikroskopik
Pengujian secara mikroskopik ditujukan untuk mengetahui struktur dan bentuk-bentuk dari bakteri (Hadiwiyoto, 1994).
c. Identifikasi Bakteri
Untuk mengetahui jenis bakteri dilakukan dengan cara kultur bakteri, morfologi bakteri, pengecatan Gram dan penanaman pada media identifikasi yaitu:
1) Kultur Bakteri
Kultur bakteri adalah pertumbuhan bakteri dari mikroorganisme. Mikroorganisme tumbuh di dalam media yang terdiri dari zat yang merangsang pertumbuhan mikroorganisme yang diduga sebagai penyebab dan menghambat mikroorganisme yang tidak diinginkan. Bahan yang diduga berisi mikroorganisme digoreskan di atas permukaan media kemudian cawan diinkubasi pada temperatur yang sesuai. Setelah itu diamati pertumbuhan bakteri dan morfologi koloni (Gibson, 1994).
2) Morfologi Bakteri
Untuk mengamati mikroorganisme dapat dilakukan individual maupun secara kelompok dalam bentuk koloni. Bentuk koloni berbeda-beda untuk tiap spesies dan bentuk itu merupakan ciri khas bagi suatu spesies tertentu. Besar kecilnya koloni, mengkilat tidaknya, halus atau kasarnya permukaan dan warna dari koloni merupakan sifat yang diperlukan untuk identifikasi suatu spesies. Kebanyakan bakteri memiliki warna keputih-putihan, labu, kekuning-kuningan atau hampir.
d. Uji Karakteristik Biokimia
1) Pewarnaan Gram.
Pewarnaan Gram adalah salah satu teknik pewarnaan sel paling penting dan paling luas digunakan untuk bakteri (Pelczar dan Chan, 1986). Pewarnaan Gram merupakan pewarnaan diferensial karena dapat membedakan bakteri-bakteri yang bersifat Gram positif dan Gram negatif (Jutono, 1980).

Adapun uji pewarnaan Gram dapat dilakukan dengan prosedur sebagai berikut :
a) Kaca objek dibersihkan dengan alkohol untuk menghilangkan lemak lalu diberi label.
b) Ambil satu ose suspensi bakteri secara aseptik pada agar miring, kemudian ditotol pada bagian tengah kaca objek secara merata.
c) Preparat dikeringkan dan selanjutnya difiksasi diatas lampu spiritus.
d) Preparat ditetesi dengan larutan kristal violet selama 1 menit, kemudian dicuci dengan aquades dan dikeringkan dengan menggunakan kertas tissu.
e) Kemudian ditetesi larutan lugol dan dibiarkan selama 1 menit, selanjutnya dicuci dengan alkohol lalu dicuci kembali dengan menggunakan aquades dan keringkan dengan kertas tissu. Setelah itu tetesi larutan safranin selama 15 detik Dan dicuci dengan aquades, kemudian dikeringkan dengan kertas tissu. Preparat diberi minyak imersi dan diamati dibawah mikroskop dengan pembesaran 1000 X.
2) Uji Oksidase
Uji oksidase dilakukan untuk menentukan adanya oksidase sitokrom yang ditemukan pada bakteri tertentu.


Prosedur uji oksidase adalah sebagai berikut :
a) Media Nutrient Agar disiapkan dalam cawan petri steril yang telah diberi label sesuai kode biakan bakteri.
b) Secara aseptik inokulasi bakteri pada media nutrien agar dengan menggunakan jarum ose, kemudian inkubasi cawan petri pada suhu 370C selama 24 jam dalam keadaan terbalik.
c) Setelah masa inkubasi 24 jam, koloni bakteri yang tumbuh pada media nutrien agar ditambahkan beberapa tetes 2-3 tetramethyl-phenylenediamine dihydrochloride.
d) Setelah 30 detik lakukan pengamatan, uji bersifat positif jika koloni bakteri berubah warna dari merah mudah menjadi maron dan akhirnya menjadi kehitaman. Uji bersifat negatif jika tidak terjadi perubahan warna.
3) Uji Motiliti
Uji motiliti dilakukan dengan tujuan untuk menentukan apakah bakteri yang diuji bersifat motil atau non motil. Prosedur kerja adalah sebagai berikut :
a) Siapkan media Motility Test Medium masukkan dalam tabung huch sebanyak 5 ml yang telah diberi label menurut kode biakan bakteri.
b) Bakteri diinokulasi ke dalam media secara aseptic dengan menusukkan jarum ose hingga ke dasar media.
c) Selanjutnya diinkubasi pada suhu 370C selama 24 jam. Lakukan pengamatan setelah 24 jam masa inkubasi.Uji bersifat positif apabila terlihat adanya pertumbuhan melebar dari bekas tusukan jarum ose.
4) Uji Katalase
Tujuan dilakukannya uji katalase adalah untuk menentukan kemampuan bakteri dalam mendegradasi hidrogen peroksida (H2O2) melalui produksi enzim katalase (Cappucino dan Sherman, 1992). Prosedur uji katalase adalah sebagai berikut :
a) Siapkan media Nutrien Broth pada tabung yang telah diberi label sesuai dengan kode biakan bakteri sebanyak 5 ml.
b) Secara aseptik inokulasi bakteri ke dalam media kemudian diinkubasi pada suhu 370C selama 24 jam. Setelah diinkubasi selama 24 jam tambahkan 3-4 tetes hydrogen peroksida (H2O2) 3% ke dalam kultur bakteri.
c) Lakukan pengamatan, uji bersifat positif jika terbentuk gelembung-gelembung udara (O2) di dalam tabung dan bersifat negatif jika tidak terbentuk gelembung-gelembung udara dalam tabung.
Lihat lampiran 2).
5. Diagram identifikasi dan pemeriksaan jumlah total bakteri pada susu kedelai cair dan susu kedelai bubuk.
(Lihat Lampiran 3).
D. Analisis Data
Hasil pengamatan yang diperoleh akan dibagi dalam dua kategori yaitu pengamatan bersifat kuantitatif dan pengamatan yang bersifat kualitatif. Hasil pengamatan kuantitatif diperoleh dari perhitungan dengan menggunakan nilai rata-rata yang kemudian dari hasil tersebut akan disajikan dalam bentuk tabel. Untuk hasil pengamatan secara kualitatif akan disajikan dalam bentuk gambar/tabel deskriptif.


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Total Bakteri Pada Susu Kedelai Bubuk
Analisa total bakteri pada penelitian ini didasarkan pada asumsi bahwa setiap sel mikroorganisme hidup dalam suspensi akan tumbuh menjadi satu koloni setelah ditumbuhkan dalam media pertumbuhan dan lingkungan yang sesuai. Setelah diinkubasi, jumlah koloni yang tumbuh dihitung dan merupakan perkiraan atau dugaan dari jumlah mikroorganisme dalam suspensi tersebut.
Dari hasil analisa terhadap sampel susu kedelai yang diambil dari lokasi supermarket di Kota Gorontalo diperoleh hasil total koloni bakteri (TPC) sebagaimana pada Gambar 2 di bawah ini


Gambar 2. Grafik TPC Susu Kedelai Bubuk dan Susu Kedelai Cair
Dari Gambar 3 diatas dapat dilihat bahwa hasil analisa TPC untuk sampel susu kedelai bubuk rata-rata TPCnya berkisar 160 – 300 CFU/gr lebih tinggi dari sampel susu kedelai cair dimana rata-rata TPCnya berkisar 170 – 190 CFU/gr. Hal ini mungkin disebabkan karena dalam proses produksinya untuk produk cair lebih ketat penerapan GMP dan HCCP dimana salah satunya setiap produk susu kedelai cair harus di pasteurisasi terlebih dahulu dan dikemas secara hermetis sampai ke konsumen kemudian dalam retailnya menggunakan coldchain system pada suhu 10C - 20C sehingga diperoleh produk yang memiliki TPC terendah. Untuk susu kedelai Bubuk pada prinsipnya penerapan GMP dan HCCP sudah sangat baik tetapi mungkin pada waktu dipasarkan disupermarket tempat penyimpanan tidak menggunakan coldchain system dimana suhu penyimpanannya hanya pada suhu kamar.
Gambar total koloni bakteri pada media NA dapat dilihat pada Gambar 3 berikut ini :



Gambar 3. Hasil TPC sampel Susu Kedelai Bubuk dan
Susu Kedelai Cair
Dari hasil yang telah dicapai pada penelitian ini secara umum jika dibandingkan dengan persyaratan mutu susu kedelai dengan nilai maksimum 1,00 x 106 koloni/g dengan nilai rata-rata TPC produk susu kedelai yang ada di Supermarket di kota Gorontalo relatif lebih kecil dari nilai yang dipersyaratkan, maka produk susu kedelai baik bubuk dan susu kedelai cair yang dijual ini aman dan hiegenes untuk dikonsumsi oleh masyarakat Gorontalo.
B. Isolasi dan Identifikasi Bakteri
Setelah dilakukan isolasi biakan murni dari sampel susu kedelai, diperoleh 36 galur uji bakteri. Isolasi dilakukan dengan cara menumbuhkan bakteri pada media pertumbuhan NA, kemudian dipilih koloni bebas yang diduga sebagai koloni bakteri yaitu koloni yang berwarna kuning atau bening untuk di uji lebih lanjut.
1. Karakteristik Biokimia Bakteri dari Sampel Susu Kedelai
a. Pewarnaan Gram (Gram staining)
Dari uji pewarnaan Gram yang telah dilakukan terhadap galur uji yang diisolasi dari media NA, diperoleh hasil 24 galur uji tersebut semuanya bersifat Gram positif dan berbentuk kokus atau bulat, yang bentuk batang 11 galur.
( Hal ini dapat dilihat pada Gambar 4, dimana sel berbentuk bulat bergerombol dan berwarna ungu atau violet ).


Gambar 4. Hasil pewarnaan Gram Isolat Diambil dengan menggunakan Microscope photo Micrigrap carton ( 1000X)
Ijong (2003b), menyatakan bahwa perbedaan struktur luar dinding sel bakteri Gram positif dan negatif mengakibatkan terjadinya perbedaan warna pada akhir prosedur pewarnaan Gram. Gram positif akan memberikan respon ungu atau violet (kadang-kadang kehitaman, yang disebabkan oleh reaksi berlebihan larutan mordan atau lugol).
Dinding sel terluar bakteri Gram positif terdiri dari peptodoglikan tebal tanpa lapisan lipoprotein atau lipopolisakarida seperti pada bakteri Gram negatif, sehingga pada saat diberikan larutan kristal violet kemudian diikuti dengan pemberian larutan lugol maka akan terbentuk kompleks kristal ungu dan yodium yang melekat kuat pada dinding selnya. Walaupun diikuti prosedur pencucian dengan larutan pemucat serta pemberian pewarna tandingan, serta pencucian dengan air, warna ungu tidak akan mudah terlepas dari dinding selnya. Pada bakteri Gram negatif, dinding selnya terdiri dari peptidoglikan yang dibungkus oleh lapisan lipoprotein atau lipopolisakarida, walaupun diberi larutan lugol, tidak akan terbentuk kompleks kristal ungu dan yodium pada dinding sel (peptidoglikan) sehingga pada saat diberikan larutan pemucat maka kristal ungu yang mengendap pada lapisan lipoprotein atau lipopolisakarida akan tercuci atau larut bersama dengan lapisan tersebut. Pada akhirnya pemberian pewarna tandingan (safranin) akan memberikan warna merah muda pada sel tersebut. Holt, dkk (1994), menyatakan bahwa Staphylococcus sp merupakan bakteri berbentuk bulat dan bersifat Gram positif, dengan diameter 0.5-1.5 μm.
b. Uji Oksidase
Hasil uji oksidase menunjukkan bahwa 35 galur memberikan reaksi positif. Hal ini berarti hampir semua galur menghasilkan enzim sitokrome oksidase yang berperan dalam respirasi aerobik. Dundu (2000), menyatakan bahwa beberapa bakteri aerob dapat menghasilkan enzim oksidase. Ini merupakan salah satu hal yang penting dalam melakukan proses identifikasi.
( Seperti terlihat dalam gambar 5 )



c. Uji Katalase
Pada uji katalase yang telah dilakukan untuk 28 galur uji memberikan respon positif sedangkan 7 galur lainnya negative. Hal ini berarti ada sekitar 77,8% galur memproduksi enzim katalase. Enzim katalase atau peroksidase sangat berperan dalam kelangsungan hidup mikroba. Menurut Ijong (2003b), pada saat mikroba melangsungkan respirasi secara aerobik, akan dihasilkan hidrogen peroksida (H2O2) yang dapat bersifat racun bagi mikroba sehingga dapat mengakibatkan kematiannya. Kecuali, jika mikroba tersebut memiliki enzim katalase atau peroksidase yang mampu mendegradasi H2O2 menjadi H2O dan O2. reaksi positif ditunjukkan dengan adanya gelembung-gelembung gas (O2) setelah dilakukan penambahan beberapa tetes H2O2 3%.
Menurut Lay (1994), uji katalase berguna dalam identifikasi kelompok bakteri tertentu. Pada bakteri bentuk kokus, uji katalase digunakan untuk membedakan Staphylococcus sp dan Streptococcus. Kelompok Streptococcus memberi reaksi negatif, sedangkan Staphylococcus sp. memberikan reaksi positif.
( Hasil uji katalase dapat dilihat pada Gambar 6 ).


(-) K (+)




Gambar 6. Hasil Uji katalase
d. Uji Motiliti
Pada uji motiliti yang telah dilakukan terdapat 14 galur uji bersifat positif atau dengan kata lain bakteri dapat melakukan pergerakan sedangkan yang memberikan respon negative sebanyak 21 galur. Hal ini berarti hampir semua bakteri yang diuji memiliki alat gerak. Gambar hasil uji motiliti dapat dilihat pada Gambar 9.







Gambar 7. Hasil uji motiliti
e. Uji Indol
Uji indol bertujuan untuk mendeteksi kemampuan mikroba dalam mendegradasi asam amino triptofan. Adanya enzim triptofanase mengakibatkan triptofan dirombak oleh bakteri menjadi indol, asam piruvat, dan amonia.
Dari hasil uji yang didapatkan, 100% galur tidak dapat mendegradasi asam amino triptofan menjadi indol karena tidak memiliki enzim triptofanase. Lay (1994) menyatakan bahwa reagen bereaksi dengan indol dan menghasilkan senyawa yang tidak larut dalam air dan berwarna merah pada permukaan medium. Hasil uji indol dapat dilihat pada Gambar 8.
Tidak semua bakteri yang mampu mendegradasi triptofan menjadi indol, dengan demikian hal ini dapat digunakan sebagai salah satu karakteristik biokimia dari bakteri yang akan diidentifikasi. Salah satu bakteri yang tidak mampu mendegradasi triptofan menjadi indol adalah Staphylococcus sp.








Gambar 8. Hasil uji indol
Berdasarkan karakteristik fisiologis dan biokimia yang dilakukan terhadap masing-masing isolat bakteri yang diisolasi dari susu kedelai bubuk dan susu kedelai cair yang diambil dari supermarket yang ada di Kota Gorontal , kemudian dilakukan pembacaan hasil analisa dengan cara melihat perbandingan karakteristik mikroba tersebut pada buku Biochemical Test For Identification by Jean Mac Faddin.. Dari hasil analisa telah teridentifikasi 2 spesies bakteri seperti yang ditampilkan pada Tabel 9.




Tabel 2. Spesies bakteri pada susu bubuk dan cair

Spesies Persentasi
(%) Tingkat Bahaya
Serangan Penyakit
Staphylococcus sp
29, %
Tinggi
Bacillus sp
29 %
Tinggi



BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN



A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa :
1. Hasil analisa TPC dari keseluruhan sampel susu kedelai bubuk dan cair bila dibandingkan dengan SNI susu kedelai TPC adalah 1.0 x 106 TPC/gr maka keseluruhan sampel uji ini sudah memenuhi standar yang telah ditetapkan dalam SNI tersebut.
2. Produk susu kedelai bubuk memliki kandungan TPC tertinggi bila dibandingkan dengan susu kedelai cair. Guna mencegah terjadinya kontaminasi silang maka disarankan untuk susu kedelai bubuk dapat dikonsumsi apabila ada pengolahan lebih lanjut misalnya dengan pemanasan dengan suhu diatas 500C atau perebusan yang dapat mematikan bakteri Staphylococcus sp.
3. Pada produk susu kedelai bubuk dan susu kedelai cair dijumpai Staphylococcus sp dan Bacillus sp setelah dilakukan analisis uji biokimia.
B. Saran
1. Perlu adanya penelitian kajian tentang penggunaan sistem High Temperature Sort Time (HTST) untuk menjamin mutu susu kedelai agar tetap baik dengan sasaran menginaktifkan Staphylococcus sp dan Bacillus sp dan enterotoksinnya tanpa merusak nilai gizi dari susu kedelai tersebut.
2. Dalam proses pengolahan sampai pada distribusinya, sebaiknya sanitasi dan higiene bahan, alat, dan pekerja lebih diperhatikan agar produk tidak terkontaminasi bakteri, khususnya bakteri Staphylococcus sp dan Bacillus sp Perlu dilakukan standarisasi terhadap baku meliputi bahan baku, bahan tambahan, bahan pengemas, sanitasi dan higenes pekerja.
3. Perlu adanya penelitian lebih lanjut mengenai ketahanan enterotoksin dari Staphylococcus sp dan Bacillus sp yang terdapat pada produk susu kedelai yang disimpan pada kondisi suhu yang berbeda.





DAFTAR PUSTAKA

Alfa Laval. 1977. Dairy Handbook. Alfa Laval Dairy and Food Engineering
Division. Sweden.
Anonimous, 2003. Mikrobiologi di Indonesia. Kumpulan Makalah Kongres Nasional Mikrobiologi. Perhimpunan Mikrobiologi Indonesia
Anonimous, 2001a. Material Safety Data Sheets, Vibrio parahaemolyticus halaman 2.
Bardach, J.E., J.H. Ryther and W.O. Mc Larney, 1998. Aquaculture : The Farming and Husbandry of Freswater and Marine Organism. John Wiley & Sons, Inc. Canada.
Betty S.L. Jenie. 1988. Sanitasi dalam Industri Pangan. Pusat Antar Universitas Institut Pertanian Bogor.
Buckle, K.A., R.A. Edwards,G.H. Gleet dan M. Wotton. 1987. Food Sc ience. Diterjemahkan oleh Hari Purnomo dan Adiono. 1987. Ilmu Pangan. Penerbit Universitas Indonesia.
Cappucino, J.G. dan Sherman. 1998. Microbiology, A Laboratory Manual. The Benjamin/Cummings Publishing Company Inc. New York.
Dwijoseputra, D. 1990. Dasar-dasar Mikrobiologi. Penerbit Djambatan. Malang. Lampert, L.M. 1974 Modern Dairy Product. Eurasia Publishing House (p) Ltd. Ram Nagar. New Delhi.
Eustice, F. Ronaldo. 1989. Pedoman Pengolahan Sapi Perah. Nandi Amerta
Agung. Salatiga.
Fardiaz, S. 1998. Keamanan Pangan Jilid 1. Fakultas Teknologi Pertanian IPB. Bogor.
Frazier, W. C. and D. C. Westhoff. 1978. Food Microbiology. 3th
edition. Tata McGraw-Hill New Delhi.
Ijong, F. G. 2003. Bahan Ajar Mikrobiologi Dasar. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelauatan-UNSRAT. Manado.
Ijong, F. G. 2004. Penuntun Praktikum Mikrobiologi Pangan Ikani. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan-UNSRAT. Manado.
Jawetz, Melnick dan Adelbergs. 1996. Mikrobiologi Edisi 16. Penerbit Buku Kedokteran Jakarta.
Jay, 2000. Modern Food Microbiology. Second Edition. Wayne State University. D.Van Nostrand Company. Gaithersburg, Maryland.
Jutono, 1998. Pedoman Praktikum Mikrobiologi Umum. Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada . Yogyakarta.
Lay, B. W. 2004. Analisis Mikrobiologi di Laboratorium. PT. Rajawali Grafindo Persada. Jakarta.
Neimann. A., Sorensen, D. E. Tribe. 1987. World Animal Science. Elsevier
Science Publishers B. V. Netherlands.
Norman G.M. 1999. Principles of Food Sanitation. A Chapman & Hall Food Science Book. Fourth Edition. AN ASPEN PUBLISHING. Aspen Publishers, Inc.Gaithersburg, Maryland.
Pelczar, M. J. dan Chan, E.C.S. 2001. Dasar-Dasar Mikrobiologi, Penerjemah : Ratna Sri Hadioetomo, Teja Imas, S. Sutarmi Tjitrosomo dan Sri Lestari Angka. UI-Press. Jakarta.
Pelczar, M.J. dan R.D.Reid. 1982. Microbiology. International Student Edition. McGraw-Hill Book Inc. New York. Toronto. London.
Rombaut R. 2005. Dairy Microbiology and Starter Cultures. Laboratory of Food Technology and Engineering. Gent University. Belgium.
Srikandi Fardiaz, 1993. Mikrobiologi Pangan I. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta
Supardi, H. I dan Sukamto. 1999. Mikrobiologi Dalam Pengolahan dan Keamanan Pangan. Penerbit Alumni Bandung.
Utji, R. dan H.Harun . 1999. Mikrobiologi Kedokteran. Bahan Ajar. Edisi Revesi Binarupa Aksara. Jakarta.
Winarno, 1998. Sterilisasi Komersil Produk Pangan. Pener bit PT Gramedia Pusaka Utama, Jakarta.